Page 550 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 550

SECEPAT KILAT, BERIKUT FAKTA SOAL OMNIBUS LAW UU CIPTA KERJA

              Di  tengah  kritikan  dan  sorotan  berbagai  pihak,  DPR  akhirnya  mengesahkan  omnibus  law
              Rancangan  Undang-Undang  (RUU)  Cipta  Kerja  menjadi  Undang-Undang  (UU)  pada  rapat
              paripurna, Senin (5/10/2020).

              Istilah  omnibus law  pertama kali muncul dalam pidato pertama Joko Widodo setelah dilantik
              sebagai Presiden RI untuk kedua kalinya, Minggu (20/10/2019).

              Dalam  pidatonya,  Jokowi  menyinggung  sebuah  konsep  hukum  perundang-undangan  yang
              disebut omnibus law.

              Apa  itu  omnibus  law   ?    Konsep    omnibus law    yang  dikemukakan  Presiden  Jokowi  banyak
              berkaitan dengan bidang kerja pemerintah di sektor ekonomi.

              Pada Januari 2020, ada dua  omnibus law  yang diajukan pemerintah, yaitu Cipta Kerja dan
              Perpajakan.

              Secara keseluruhan, ada 11 klaster yang menjadi pembahasan dalam  omnibus law  RUU Cipta
              Kerja, yaitu:  Sementara itu, UU Cipta Kerja, yang baru saja disahkan, terdiri atas 15 bab dan
              174 pasal. Di dalamnya mengatur berbagai hal, mulai dari ketenagakerjaan hingga lingkungan
              hidup.

              Berikut sederet fakta soal  omnibus law  UU Cipta Kerja:  Pembahasan RUU Cipta Kerja oleh
              pemerintah dan DPR untuk disahkan jadi UU Cipta Kerja ini terbilang kilat dibandingkan dengan
              pembahasan RUU lain.

              Bahkan, awalnya RUU Cipta Kerja bisa selesai sebelum 17 Agustus meskipun di tengah pandemi
              Covid-19.

              Kejar tayang pembahasan RUU ini diklaim demi kemudahan investasi di Indonesia.

              Sidang-sidang pembahasannya dilakukan siang malam bahkan hingga larut malam, meskipun
              dibahas di tengah masa reses dan pandemi.


              Pemerintah dan Baleg DPR RI memang sempat menunda pembahasan klaster Ketenagakerjaan
              ini setelah mendapat perintah resmi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 April lalu.

              Hal ini untuk merespons tuntutan buruh yang keberatan dengan sejumlah pasal dalam klaster
              tersebut.

              Dengan segera disahkannya  omnibus law  RUU Cipta Kerja menjadi UU Cipta Kerja, diharapkan
              bisa mendorong peningkatan investasi, terutama investasi asing di Tanah Air.

              Peningkatan investasi, menurut pemerintah, akan mengatrol pertumbuhan ekonomi sekaligus
              menciptakan peluang kerja lebih banyak terutama di masa pandemi virus corona (Covid-19).

              Selain sifatnya yang disebut kejar tayang. Beberapa pasal dalam UU Cipta Kerja disebutkan juga
              penuh kontroversi.

              Di antaranya adalah sebagai berikut:  UU Cipta Kerja menghapus aturan mengenai jangka waktu
              perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak.

              Pasal 59 ayat (4) UU Cipta Kerja menyebutkan, ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan sifat
              atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu dan batas waktu perpanjangan perjanjian kerja waktu
              tertentu diatur dengan Peraturan Pemerintah.



                                                           549
   545   546   547   548   549   550   551   552   553   554   555