Page 564 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 564

Faktanya, berdasarkan draf final Omnibus Law Cipta Kerja yang didapat  CNNIndonesia  , tidak
              ditemukan pasal yang secara spesifik menyatakan pemberian cuti hamil dan cuti haid kepada
              pekerja. Padahal di UU Ketenagakerjaan, ketentuan ini secara khusus tertuang dalam empat
              pasal.

              Salah  satunya  pada  Pasal  81.  Pada  pasal  itu  dijelaskan  pekerja/buruh  perempuan  yang
              merasakan sakit saat haid dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada
              hari pertama dan kedua pada waktu siklus itu.

              Pelaksanaannya sesuai dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja
              bersama.

              Begitu juga dengan cuti haid. "Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama
              satu  setengah  bulan  sebelum  saatnya  melahirkan  anak  dan  satu  setengah  bulan  sesudah
              melahirkan  menurut  perhitungan  dokter  kandungan  atau  bidan,"  bunyi  Pasal  82  ayat  1  UU
              Ketenagakerjaan.
              Selain  itu,  pekerja/buruh  perempuan  yang  mengalami  keguguran  kandungan  berhak
              memperoleh  istirahat  satu  setengah  bulan  atau  sesuai  dengan  surat  keterangan  dokter
              kandungan atau bidan. Bahkan, Pasal 84 UU Ketenagakerjaan mewajibkan para pekerja/buruh
              perempuan yang mendapat hak cuti tersebut tetap mengantongi upah penuh.
              Namun, ketentuan ini tidak ada lagi di Omnibus Law Ciptaker. Ketentuan cuti bagi pekerja hanya
              secara umum.

              Hal itu tertuang di Pasal 79, di mana pemberi kerja wajib memberi waktu istirahat dan cuti.
              Istirahat diberikan antara jam kerja, paling sedikit setengah jam setelah bekerja selama empat
              jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja.

              Lalu, diberikan pula istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja dalam satu minggu.

              "Cuti yang wajib diberikan kepada pekerja/buruh yaitu cuti tahunan, paling sedikit 12 hari kerja
              setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus," tulis
              Pasal 79 ayat 3 Omnibus Law Ciptaker.

              Pelaksanaan cuti tahunan diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian
              kerja bersama. Selain waktu istirahat dan cuti yang sudah diatur, perusahaan tertentu dapat
              memberikan istirahat panjang yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau
              perjanjian kerja bersama.


























                                                           563
   559   560   561   562   563   564   565   566   567   568   569