Page 566 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 566

Pasal 59 UU Ketenagakerjaan semula mengatur bahwa perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT)
              terhadap pekerja maksimal dilakukan dua tahun, selanjutnya dapat diperpanjang kembali dalam
              waktu 1 tahun.



              UU CIPTA KERJA DISAHKAN, KERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING DIPREDIKSI
              MAKIN MENGGURITA

              Wakil  Ketua  Konfederasi  Persatuan    Buruh    Indonesia  (KPBI)  Jumisih  menyebutkan,  setelah
              omnibus law  Undang-Undang Cipta Kerja disahkan, sistem kerja kontrak dan  outsourcing  akan
              semakin menggurita.

              Pasalnya,  UU  tersebut  menghilangkan  ketentuan  mengenai  jangka  waktu  maksimum  status
              pekerja kontrak bisa diperpanjang. Pada  UU Cipta Kerja  , praktik  outsourcing  juga tidak lagi
              dibatasi pada jenis pekerjaan tertentu.

              "Kontrak  dan    outsourcing    itu  akan  semakin  menggurita,  tidak  ada  batasan  waktu  karena
              batasan waktu tiga tahun itu dihapuskan. Dan  outsourcing  itu tidak akan lagi memandang jenis
              pekerjaan apa yang bisa di-  outsource  ," kata Jumisih dalam konferensi pers daring, Selasa
              (6/10/2020).

              Pasal 59 UU Ketenagakerjaan semula mengatur bahwa perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT)
              terhadap pekerja maksimal dilakukan dua tahun, selanjutnya dapat diperpanjang kembali dalam
              waktu 1 tahun.

              Sementara, dalam UU Cipta Kerja, ketentuan itu diubah dengan menghilangkan jangka waktu
              maksimum perjanjian kerja sementara dan jangka waktu perpanjangan maksimum.

              Terkait    outsourcing    ,  berdasarkan  UU  Nomor  13  Tahun  2003  tentang  Ketenagakerjaan,
              praktiknya  hanya  dibatasi  pada  jenis  pekerjaan  yang  tidak  berhubungan  langsung  dengan
              kegiatan produksi.

              Batasan  ini  kemudian  dihapuskan  oleh  UU  Cipta  Kerja.  Padahal,  praktik  kerja    outsourcing
              selama ini hanya menguntungkan perusahaan dan berimbas pada pengurangan hak-hak  buruh.

              "Kita bisa memprediksi bahwa sistem kerja kontrak yang sekarang ini kondisinya sudah buruk
              itu akan lebih buruk lagi kondisinya ke depan," ujar Jumisih.

              Jumisih juga menyoroti ketentuan mengenai jam lembur yang menjadi lebih lama. Pasal 78 Bab
              IV UU Cipta Kerja tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa waktu kerja lembur dilakukan
              paling banyak empat jam dalam sehari dan 18 jam seminggu.

              Waktu lembur tersebut lebih lama dibandingkan dengan yang semula diatur dalam UU Nomor
              13 Tahun 2003, yang menyebutkan bahwa kerja lembur dalam satu hari maksimal 3 jam dan 14
              jam dalam satu minggu.
              Hal  ini,  kata  Jumisih,  akan  menyulitkan  buruh  untuk  meluangkan  waktu  bersosialisasi  atau
              sekadar berkumpul bersama keluarga.

              "Karena  jam-jam  produktif  kami,  jam-jam  terbaik  kami  sebagai  buruh  itu  sudah  diabdikan
              sepenuh-penuhnya di pabrik sehingga waktu bersosialisasi itu akan berkurang," kata dia.

              Keberadaan  UU  Cipta  Kerja  juga  dinilai  tidak  akan  membuka  peluang  kerja  yang  luas
              sebagaimana yang dijanjikan pemerintah.




                                                           565
   561   562   563   564   565   566   567   568   569   570   571