Page 570 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 570
Judul Poin-Poin Isi UU Cipta Kerja Omnibus Law Soal Pesangon hingga Upah
Nama Media tirto.id
Newstrend Omnibus Law
Halaman/URL https://tirto.id/poin-poin-isi-uu-cipta-kerja-omnibus-law-soal-pesangon-
hingga-upah-f5EK
Jurnalis Dipna Videlia Putsanra
Tanggal 2020-10-07 10:10:00
Ukuran 0
Warna Warna
AD Value Rp 17.500.000
News Value Rp 52.500.000
Kategori Dirjen PHI & Jamsos
Layanan Korporasi
Sentimen Positif
Ringkasan
Poin-poin dalam UU Cipta Kerja Omnibus Law soal pesangon, cuti, dan upah.
Buruh/pekerja di seluruh Indonesia perlu mengetahui poin-poin dalam UU Cipta Kerja Omnibus
Law klaster ketenagakerjaan yang akan berdampak pada seluruh buruh/pekerja. Ada beberapa
poin penting dalam UU Cipta Kerja soal upah hingga perjanjian waktu kerja.
POIN-POIN ISI UU CIPTA KERJA OMNIBUS LAW SOAL PESANGON HINGGA UPAH
Poin-poin dalam UU Cipta Kerja Omnibus Law soal pesangon, cuti, dan upah.
Buruh/pekerja di seluruh Indonesia perlu mengetahui poin-poin dalam UU Cipta Kerja Omnibus
Law klaster ketenagakerjaan yang akan berdampak pada seluruh buruh/pekerja. Ada beberapa
poin penting dalam UU Cipta Kerja soal upah hingga perjanjian waktu kerja.
RUU Cipta Kerja Omnibus Law yang banyak dihujani protes ini tetap disahkan DPR menjadi UU
pada Senin (5/10/2020). Isi UU Cipta Kerja ini dinilai bisa merugikan para buruh dan
menguntungkan segelintir orang saja.
Berikut ini beberapa poin isi UU Cipta Kerja Omnibus Law soal ketenagakerjaan.
1. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau Kontrak UU Cipta Kerja mengatur soal
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). PKWT diatur hanya untuk pekerjaan yang memenuhi
syarat-syarat tertentu atau pekerjaan tidak tetap.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, PKWT memberikan perlindungan untuk kelangsungan
bekerja dan perlindungan hak pekerja sampai pekerjaan selesai. PKWT berakhir, pekerja berhak
mendapatkan uang kompensasi.
Namun, jangka waktu maksimum perjanjian kerja sementara dan jangka waktu perpanjangan
maksimum belum secara spesifik diatur seperti dalam UU Ketenagakerjaan. Dalam UU Cipta
Kerja disebutkan, kedua hal itu akan diatur dalam PP.
569

