Page 574 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 574

Berdasarkan catatan KSPI, aksi kemarin dilakukan di berbagai daerah industri seperti Serang,
              Cilegon, Tangerang, Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Cianjur, Bandung,
              Semarang,  Surabaya,  Pasuruan,  Gresik,  Mojokerto,  Lampung,  Medan,  Deli  Serdang,  Batam,
              Banda Aceh, Banjarmasin, Gorontalo, dan lain sebagainya.

              Said Iqbal membantah jika ada yang mengatakan apa yang dilakukan buruh adalah mogok kerja
              secara illegal. Menurutnya, pemogokan ini dilakukan sebagai bentuk protes kaum buruh atas
              disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja.

              Adapun asar hukum mogok nasional dilakukan sesuai dengan UU No 9 Tahun 1998 tentang
              Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan UU No 21 Tahun 2000 khususnya
              Pasal  4  yang  menyebutkan,  fungsi  serikat  pekerja  salah  satunya  adalah  merencanakan  dan
              melaksanakan pemogokan.

              "Selain itu, dasar hukum mogok nasional yang akan kami lakukan adalah UU No 39 Tahun 1999
              tentang HAM dan UU No 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang
              Hak-Hak Sipil dan Politik," katanya.

              Menurut  Said  Iqbal,  aksi  buruh  dilakukan  dengan  tertib,  damai,  dan  tidak  anarkis.  Aksi  ini
              dilakukan semata-mata untuk meminta pemerintah dan DPR RI membatalkan Omnibus Law.
              Karena di dalamnya ada persoalan mendasar seperti pengurangan pesangon, karyawan kontrak
              dan outsourcing seumur hidup, UMSK dihilangkan, ada syarat khusus untuk penetapan UMK,
              hingga potensi hilangnya jaminan kesehatan dan pensiun bagi karena penerapan kontrak dan
              outsourcing.

              KSPI juga menghimbau agar buruh yang melakukan aksi tetap mengutamakan kesehatan agar
              tidak terpapar Covid-19 dengan tetap menggunakan masker di lokasi aksi dan menjaga jarak di
              antara massa aksi.

              Sebelumnya,  Rancangan  Undang-Undang  (RUU)  Omnibus  Law  tentang  Cipta  Kerja  sudah
              disahkan menjadi UU oleh para anggota dewan pada rapat paripurna Senin (5/10).

              Dari pengesahan tersebut setidaknya ada dua fraksi yang melakukan penolakan Omnibus Law
              disahkan menjadi UU. Itu adalah Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
              (PKS).
              Selain itu elemen buruh juga menolak pengesaha UU Omnibus Law tentang Cipta Kerja tersebut.
              Sebagai  bentuk  penolakannya,  buruh  melakukan  mogok  kerja  nasional  tertanggal  dari  6-8
              Oktober 2020.

              (  Editor : Dinarsa Kurniawan  Reporter : Gunawan Wibisono   .






















                                                           573
   569   570   571   572   573   574   575   576   577   578   579