Page 674 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 674

Namun, pada Omnibus Law Ciptaker ,bunyi pasal itu diubah melalui Pasal 81 poin 37, sehingga
              dalam hal perundingan bipartit (pengusaha dan pekerja) tidak mendapatkan kesepakatan maka
              pemutusan hubungan kerja dilakukan melalui tahap berikutnya sesuai mekanisme penyelesaian
              perselisihan hubungan industrial.

              Tak hanya itu, UU Ciptaker juga membatasi akses buruh kepada lembaga perselisihan hubungan
              industrial. Ini tercantum melalui penghapusan Pasal 171 UU Ketenagakerjaan melalui Pasal 81
              poin 60 UU Ciptaker.

              Sebelumnya, Pasal 171 menyatakan jika pekerja/buruh yang mengalami PHK tanpa penetapan
              lembaga  penyelesaian  perselisihan  hubungan  industrial  yang  berwenang,  dan  pekerja/buruh
              yang  bersangkutan  tidak  dapat  menerima  pemutusan  hubungan  kerja  tersebut,  maka
              pekerja/buruh  dapat    mengajukan  gugatan  ke  lembaga  penyelesaian  perselisihan  hubungan
              industrial dalam waktu paling lama 1 tahun sejak tanggal dilakukan PHK.

              Selain itu, pemerintah melonggarkan alasan PHK melalui tambahan alasan PHK lainnya, dalam
              perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau  perjanjian  kerja  bersama.  Ini  tertuang  dalam
              tambahan Pasal 154A dalam UU Ciptaker.

              Selain  itu,  pemerintah  menghapus  kesempatan  bagi  pekerja  untuk  mengajukan  PHK  karena
              alasan tertentu seperti tertuang dalam Pasal 169 UU Ketenagakerjaan melalui Pasal 81 poin 58
              UU Ciptaker.

              Bunyi Pasal 169 yang dihapus yakni, pekerja/buruh dapat mengajukan permohonan PHK kepada
              lembaga  penyelesaian  perselisihan  hubungan  industrial,  apabila  perusahaan  menganiaya,
              menghina secara kasar atau mengancam pekerja/buruh.

              Lalu, perusahaan tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 bulan
              berturut-turut atau lebih dan tidak melakukan kewajiban yang telah dijanjikan kepada pekerja/
              buruh.
              Ayat selanjutnya menjelaskan PHK dengan alasan tersebut maka pekerja berhak mendapat uang
              pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak.

              Terkait  pesangon,  UU  Ciptaker  juga  meniadakan  setidaknya  5  pasal  mengenai  pemberian
              pesangon. Imbasnya, pekerja terancam tidak menerima pesangon ketika mengundurkan diri,
              mengalami PHK dengan alasan tertentu, dan meninggal dunia.

              Pertama  , pasal 81 poin 51 UU Ciptaker menghapus ketentuan Pasal 162 UU Ketenagakerjaan
              yang berisi aturan penggantian uang pesangon bagi pekerja yang mengundurkan diri.

              Kedua  , pasal 81 poin 52 UU Ciptaker menghapus pasal 163 di UU Ketenagakerjaan terkait
              dengan pemberian uang pesangon apabila terjadi PHK akibat perubahan status, penggabungan,
              peleburan, atau perubahan kepemilikan perusahaan.

              Ketiga  , pasal 81 poin 53 UU Ciptaker menghapus pasal 164 UU Ketenagakerjaan yang mengatur
              pemberian uang pesangon apabila terjadi PHK akibat perusahaan mengalami kerugian secara
              terus menerus selama 2 tahun atau keadaan memaksa (  force majeur  ).

              Keempat  , pasal 81 poin 54 UU Ciptaker menghapus pasal 165 pada UU Ketenagakerjaan terkait
              pemberian uang pesangon apabila terjadi PHK karena perusahaan pailit.

              Kelima    ,  pasal  81  poin  55  UU  Ciptaker  menghapus  pasal  166  UU  Ketenagakerjaan  tentang
              pemberian pesangon kepada ahli waris apabila pekerja atau buruh meninggal dunia..




                                                           673
   669   670   671   672   673   674   675   676   677   678   679