Page 844 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 844

Mulai dari perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) seumur hidup,  outsourcing  , tolak jam kerja
              eksploitatif, hingga hak cuti.
              Ida  pun  menegaskan,  hal  itu  menjadi  poin-poin  positif  yang  terangkum  dalam  klaster
              ketenagakerjaan Undang-undang Cipta Kerja.

              "Terdapat prinsip-prinsip umum yang dipatuhi dalam penyusunan klaster ketenagakerjaan RUU
              Cipta  Kerja.  Pertama,  penyusunan  ketentuan  klaster  ketenagakerjaan  memperhatikan  hasil
              putusan Mahkamah Konstitusi atas uji materi UU 13 Tahun 2003," kata Ida kepada awak media,
              Selasa, 6 Oktober 2020.

              Kemudian, ketentuan mengenai sanksi ketenagakerjaan dikembalikan kepada UU 13/2003. Ida
              mengatakan,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh PKWT yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja.

              Di  samping  itu,  menurut  dia,  UU  Cipta  Kerja  mengatur  perlindungan  tambahan  berupa
              kompensasi kepada pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT. Syarat-syarat dan perlindungan
              hak  bagi  pekerja  atau  buruh  dalam  kegiatan  alih  daya  (    outsourcing    )  masih  tetap
              dipertahankan.

              "Bahkan UU Cipta memasukkan prinsip pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh,
              apabila  terjadi  pergantian  perusahaan  alih  daya.  Hal  ini  sesuai  dengan  amanat  putusan
              Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-IX/2011," kata Ida.

              Di samping itu, lanjut Ida, dalam rangka pengawasan terhadap perusahaan alih daya, RUU Cipta
              Kerja juga mengatur syarat-syarat perizinan terhadap perusahaan alih daya yang terintegrasi
              dalam sistem  Online Single Submission  (OSS).

              Sementara  itu,  ketentuan  mengenai  waktu kerja  dan  waktu  istirahat tetap  diatur  seperti  UU
              eksisting (UU 13 Tahun 2003). Lalu, menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu
              kerja dan waktu istirahat pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu.

              "Hal  ini  untuk  mengakomodir  tuntutan  perlindungan  pekerja/buruh  pada  bentuk-bentuk
              hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang secara
              dinamis," ujarnya.

              Sementara itu, Ida menegaskan, UU Cipta Kerja tetap mengatur hak-hak dan perlindungan upah
              bagi pekerja/buruh sebagaimana peraturan perundang-undangan eksisting (UU 13/2003 serta
              PP 78/2015). Dan kemudian selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  upah  minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  upah  minimum
              kabupaten/kota tetap dipertahankan. Dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan upah
              minimum  dimaksud,  maka  RUU  Cipta  Kerja  menghapus  ketentuan  mengenai  penangguhan
              pembayaran upah minimum," katanya.
















                                                           843
   839   840   841   842   843   844   845   846   847   848   849