Page 258 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2021
P. 258

Jurus memangkas kualitas pangan sebagai kebutuhan pokok pun dilakukan. Demi menambah
              penghasilan, Yesa berdagang secara daring. Meski tak seberapa, namun bisa menambah biaya
              membeli susu, pampers, dan kebutuhan si buah hati lainnya. Entah sampai kapan Yesa dan
              keluarganya terjebak dalam pola bertahan hidup harian  --hanya sanggup berpikir kebutuhan
              bertahan  hidup  hari  ini.  Perencanaan  hidup  jangka  panjang  menjadi  mimpi  yang  mustahil
              diwujudkan.

              Hal  serupa  juga  dialami  Mirna;  pabrik  tempat  ia  bekerja  tutup  selama  dua  minggu  di  awal
              pandemi, sementara sang suami yang bekerja sebagai cleaning service di sebuah mall di-PHK.
              Alhasil, Mirna mesti putar otak untuk bisa bertahan hidup bagi dua anaknya yang masih kecil,
              sementara kebutuhan terus berjalan tanpa mengenal libur.

              Kisah Yesa dan Mirna hanya contoh dari sekian banyak buruh bernasib serupa. Badan Statistik
              (BPS, 2020) mencatat pandemi berdampak pada 14,28% penduduk usia kerja, atau 29,12 juta
              orang dari total populasi 203,97 juta. Angka ini terdiri dari 2,56 juta orang yang menganggur,
              0,76 juta orang bukan angkatan kerja (BAK), 1,77 juta orang yang sementara tidak bekerja, dan
              24,03 juta orang yang mengalami pengurangan jam kerja.
              Sementara, penelitian online Marsinah FM di tahun 2020 mencatat, buruh di Jabotabek dan Jawa
              Tengah dari berbagai sektor seperti padat karya ( garment, alas kaki, makanan dan minuman),
              sektor  jasa  (perhotelan,  rumah  makan,  ritel),  logam  komponen  otomotif,  sebanyak  28,08%
              dirumahkan dan mayoritas tidak diupah (68,5%).
              Demi menyambung hidup, sebagian buruh mulai beralih ke sektor informal seperti apa yang
              dilakukan Yesa dengan berdagang online.

              Yesa tidak sendiri. Menurut BPS (2020), buruh di sektor informal meningkat sebesar 4,6%, baik
              yang  berusaha  sendiri,  berusaha  dibantu  buruh  tidak  tetap,  hingga  pekerja  tidak  dibayar.
              Namun, menjadi pekerja informal bukan berarti lepas dari jerat kemiskinan, seperti yang dialami
              Andrico.

              Andrico  membuka  usaha  jasa  pangkas  rambut  di  Bekasi  selama  16  tahun.  Sejak  pandemi,
              penghasilannya menurun drastis menjadi Rp 100.000-Rp 130,000/hari, dengan pelanggan hanya
              sejumlah 10 sampai 13 orang/hari, itu pun adalah anak sekolah dengan biaya pangkas rambut
              lebih murah dari orang dewasa.

              Dalam peta ketenagakerjaan, pekerja informal merupakan pekerja rentan yang paling mudah
              tergerus hak dan kesejahteraannya, serta minim perlindungan. Dalam peraturan perundangan
              ketenagakerjaan misalnya, masih belum mengakomodasi hak buruh informal.

              Bercermin  dari  data  dan  cerita  suram  kaum  buruh  di  atas,  pandemi  telah  memerosotkan
              kesejahteraan  dan  memukul  daya  beli  buruh.  Akibatnya,  tentu  saja,  melambatnya  laju
              perekonomian yang masih bersandar pada daya beli masyarakat. Dalam hal ini, daya beli buruh
              berkontribusi besar karena lebih dari separuh penduduk Indonesia merupakan pekerja. Itulah
              mengapa kesejahteraan buruh merupakan elemen penting bagi pemulihan ekonomi.
              Sayang, kebijakan pemerintah justru berkontribusi besar pada penurunan kesejahteraan kaum
              buruh.

              Memperparah  Kondisi  Sejak  awal  pandemi,  pemerintah  dengan  sigap  menerapkan  beragam
              kebijakan, salah satunya tentu saja yang berkaitan dengan nasib buruh. Pada 17 Maret 2020,
              Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor
              M/3/HK.04/III/2020  tentang  Perlindungan  Pekerja/  Buruh  dan  Kelangsungan  Usaha  dalam
              Rangka  Pencegahan  dan  Penanggulangan  Covid-19.  Surat  edaran  tersebut  salah  satunya
              mengatur  bahwa  selama  pandemi,  perubahan  besaran  maupun  cara  pembayaran  upah
              pekerja/buruh dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara pengusaha dengan pekerja/buruh.
                                                           257
   253   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263