Page 259 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2021
P. 259

Istilah  "kesepakatan  antara  pengusaha  dan  pekerja/buruh"  seolah  menunjukkan  adanya
              keputusan demokratis terkait pemberian upah yang dicicil maupun dipotong. Padahal, kedua
              belah pihak yaitu pengusaha dan buruh berada pada relasi yang timpang. Keduanya tidak pernah
              setara secara kedudukan di dalam perusahaan; pihak perusahaan sebagai atasan (pemberi kerja)
              memiliki kuasa lebih atas nasib buruh (penerima kerja/ bawahan).

              Bisa  dipastikan  ruang  negosiasi  antara  pengusaha  dan  buruh  merupakan  ruang  yang  tidak
              demokratis karena relasi keduanya yang timpang sehingga hasil keputusan rentan merugikan
              kaum  buruh.  Dengan  kata  lain,  menyerahkan  kebijakan  upah  pada  "kesepakatan  antara
              pengusaha dan buruh/ pekerja" merupakan bentuk lepas tanggung jawab pemerintah terhadap
              nasib  buruh.  Padahal,  situasi  yang  timpang  tersebut  hanya  bisa  menjadi  setara,  apabila
              perangkat dan aparat hukum memberikan 'perlindungan bagi yang lemah'.

              Tak  cukup  sampai  di  situ,  di  pengujung  tahun  2020,  Kementerian  Tenaga  Kerja  kembali
              memberikan kado sedih bagi buruh Indonesia, yaitu tidak dinaikkannya Upah Minimum Provinsi
              (UMP) 2021 dan diberlakukannya Upah Khusus Padat Karya yang membolehkan upah dibayarkan
              di bawah UMP hingga akhir tahun 2021. Dan, terakhir tentu saja kebijakan Tunjangan Hari Raya
              (THR) yang membolehkan perusahaan tidak membayarkan THR, mencicil THR atau tidak secara
              penuh.

              Benar, bahwa Surat Edaran Menaker berada di bawah peraturan perundangan, namun ia jauh
              lebih berlaku dibandingkan peraturan perundangan yang ada di atasnya. Keluarnya Surat Edaran
              Menaker  bahkan  bertentangan  dengan  peraturan  perundangan  di  atasnya,  namun  carut
              marutnya hukum di Indonesia mulai dari segi budaya hukum, struktur hukum, hingga esensi
              atau  muatan  hukum  membuat  hukum  Indonesia  seperti  dagelan,  bisa  diubah  sesuka  hati,
              diberlakukan seusai kepentingan yang punya kuasa.

              Dian Septi Trisnanti Koordinator Marsinah FM dan Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Persatuan
              Indonesia (FSBPI)






































                                                           258
   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263   264