Page 238 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 JULI 2021
P. 238

"TKA didatangkan investor sesuai izin dan ketentuan prosedur protokol kesehatan," ujar Fadly
              dalam keterangan tertulis, Selasa (6/7/2021).
              TKA asal China tersebut akan bekerja untuk proyek strategis nasional (PSN) di PT Huady Nickel-
              Alloy Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Hal tersebut sudah diatur dalam Peraturan Presiden
              (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 tentang perubahan ketiga atas Perpres Nomor 3 Tahun 2016.
              Berisi tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional.

              Terlepas dari kedatangan 20 TKA asal China tersebut, menurut Fadly, pemerintah telah menutup
              permohonan baru TKA. Terkecuali bagi TKA yang akan dipekerjakan di PSN atau obyek vital
              strategis.  Hal  tersebut  tertuang  dalam  Surat  Edaran  Nomor  M/3/HK.04/II/2021  tentang
              Pelayanan Penggunaan TKA dalam Upaya Pencegahan Masuknya COVID-19.

              "Pemerintah tetap berjuang melawan pandemi COVID-19. Namun, ekonomi tetap berjalan lewat
              berbagai proyek strategis nasional (PSN) agar membawa kebermanfaatan yang luas," tukasnya.

              Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyesalkan masuknya 20 TKA asal China tersebut.
              Dengan dalih PSN, TKA China seolah mendapat privilese dari pemerintah Indonesia.

              Semestinya pemerintah tegas dan ketat terhadap akses masuk warga negara asing, mengingat
              varian baru CCOVID-19 berasal dari luar negeri. Ia khawatir PPKM Darurat Jawa-Bali menjadi
              tidak efektif.

              Meskipun  mereka  telah  divaksinasi  tidak  menjamin  akan  munculnya  penularan  selama
              perjalanan.

              "Bukankah sebaiknya ditutup dulu pintu masuk TKA ke Indonesia untuk mencegah terjadinya
              penyebaran virus varian baru?" ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa.









































                                                           237
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243