Page 64 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 64

SKEMA JAMINAN SOSIAL DIBENAHI, PERUSAHAAN DITAGIH

              JAKARTA, KOMPAS --- Pemerintah sedang membenahi skema jaminan sosial ketenagakerjaan
              sebelum program Jaminan Kehilangan Pekerjaan diluncurkan pada Februari 2022. Mediator dan
              pengawas ketenagakerjaan dikerahkan untuk menagih perusahaan yang selama ini belum atau
              lalai mendaftarkan pekerja mereka di program jamsostek.

              Hal itu sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2021 tentang Optimalisasi Pelaksanaan
              Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 25
              Maret 2021. Inpres itu mengamanatkan seluruh menteri dan kepala daerah untuk memastikan
              seluruh pekerja terdaftar sebagai peserta BP Jamsostek, yakni pekerja formal, informal, migran,
              serta  pegawai  pemerintah  non-PNS  dan  penyelenggara  pemilu.  Inpres  juga  memerintahkan
              upaya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap perusahaan yang tidak patuh.

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, pihaknya mendapat pekerjaan rumah besar
              untuk meningkatkan jumlah kepesertaan pekerja dalam program jamsostek, terutama sebelum
              program baru tunjangan pengangguran, yakni Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), diluncurkan
              pada Februari 2022.

              "Untuk memperluas kepesertaan jamsostek, kami akan melibatkan fungsi mediator hubungan
              industrial  dan  pengawas  ketenagakerjaan  yang  lebih  aktif.  Saat  ini  sedang  kami  siapkan
              Peraturan Menteri Ketenagakerjaan untuk koordinasi fungsional terkait itu," kata Ida dalam rapat
              kerja dengan Komisi IX DPR dan Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo di Jakarta,
              Rabu (7/4/2021).

              Ida menjelaskan, mediator akan membina, menyosialisasikan, dan berdialog dengan perusahaan
              yang belum mendaftarkan pekerja di BP Jamsostek atau perusahaan yang hanya mendaftarkan
              sebagian  pekerja.  Pengawas  ketenagakerjaan  akan  mengawasi  perusahaan-perusahaan
              tersebut.

              Berdasarkan data BP Jamsostek, ada 48,64 juta peserta program jamsostek atau 54,04 persen
              dari angkatan kerja yang seharusnya terdaftar di BP Jamsostek. Dari jumlah itu, sekitar 8,42
              persen di antaranya pekerja informal.

              Hingga  kini  masih  banyak  perusahaan  yang  tidak  mendaftarkan  pekerja  dalam  program
              jamsostek. Kepatuhan perusahaan yang rendah sudah teijadi sejak sebelum pandemi.

              "Kepesertaan jamsostek bersifat wajib, perusahaan harus mengikuti. Lewat reformasi program
              jaminan  sosial,  diharapkan  semua  manfaat  program  jamsostek  bisa  saling  terintegrasi  dan
              melindungi pekerja secara detail," kata Ida.

              Kepatuhan

              Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pihaknya akan mengecek lebih
              dulu  skala  usaha  berdasarkan  aset  dan  omzet  perusahaan.  Eligibilitas pengusaha  juga  dicek
              berdasarkan kewajiban mendaftarkan pekerja di program jamsostek lainnya.

              Pemerintah baru akan membayarkan iuran JKP setelah perusahaan dan pekerja melewati proses
              verifikasi dan validasi data oleh BP Jamsostek sesuai syarat.

              "Selain meningkatkan cakupan kepesertaan, tantangan kami ke depan adalah mempermudah
              cara  pendaftaran,  pembayaran,  dan  penebusan  klaim.  Kami  sedang  kembangkan  aplikasi
              berbasis biometrik agar pendaftaran dan klaim juga bisa lebih cepat," kata Anggoro.





                                                           63
   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69