Page 157 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 157

Ringkasan

              Kejaksaan Agung RI mengakui kesulitan untuk memformulasikan dugaan perkara korupsi di balik
              pengelolaan keuangan dan dana investasi BPJS Ketenagakerjaan. Hal itu yang membuat penyidik
              belum menetapkan satupun tersangka. Demikian disampaikan oleh Direktur Penyidikan Jaksa
              Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.



              3 BULAN BELUM TETAPKAN TERSANGKA, INI KESULITAN YANG DIHADAPI
              KEJAGUNG

              Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim, JAKARTA - Kejaksaan Agung RI mengakui
              kesulitan untuk memformulasikan dugaan perkara korupsi di balik pengelolaan keuangan dan
              dana  investasi  BPJS  Ketenagakerjaan  .  Hal  itu  yang  membuat  penyidik  belum  menetapkan
              satupun tersangka.

              Demikian  disampaikan  oleh  Direktur  Penyidikan  Jaksa  Agung  Muda  Tindak  Pidana  Khusus
              (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Awalnya, ia menceritakan penyidik berpacu dengan waktu untuk
              menyelesaikan kasus tersebut.

              Pasalnya, penyidik masih belum bisa membuat kontruksi hukum yang mengarah adanya tindak
              pidana  korupsi  di  balik  kasus  tersebut  sejak  Januari  2021  atau  tiga  bulan  setelah  kasus  itu
              dinaikkan menjadi penyidikan.
              "Alat bukti sudah banyak, penggeledahan juga sudah dilakukan, bukti elektronik sudah diambil
              dan kita ingin memastikan bahwa penyidik dapat memberi usulan yang pasti apakah ini kerugian
              keuangan negara ada perbuatan melawan hukum atau ada pemufakatan jahat di antara itu. Itu
              yang kita minta ada kepastian," kata Febrie di Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Selasa (23/3/2021)
              malam.

              Febrie menjelaskan penyidik harus bisa membuktikan alat bukti yang dipegang perihal kerugian
              negara dalam pengelolaan keuangan dan investasi pada BPJS Ketenagakerjaan bukan sebagai
              risiko bisnis.

              "Jaksa harus bisa memastikan alat bukti harus ditemukan. Kaya Jiwasraya ataupun Asabri ini kan
              ada dua pihak yang bekerja sama di dalam dan di luar. Maksud saya itu ada perbuatan melawan
              hukum atau kerugian negara itu diciptakan untuk kepentingan keuntungan seseorang. Ini yang
              masih kesulitan untuk memformulasikan itu," ujar dia.

              Dijelaskan  Febrie,  penyidik  juga  telah  melaksanakan  sejumlah  ekspose  kasus  terkait  BPJS
              Ketenagakerjaan tersebut. Namun, ada beberapa dokumen yang harus dilakukan pendalaman.

              "Kemarin  kan  sudah  ekspose  nah  ternyata  ada  beberapa  petunjuk  dari  ekspose  lah.  Ada
              pendalaman sedikit lagi lah ada beberapa dokumen yang dilihat. Yang jelas jaksa berhati-hati
              lah. Jaksa tidak ingin maju dengan perkara yang tidak diyakini penuh bahwa itu Tipikor," tukas
              dia.

              Sebagai informasi, Kejaksaan Agung RI sebelumnya menduga adanya tindak pidana korupsi yang
              terjadi dalam tubuh PT BPJS Ketenagakerjaan berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan dana
              investasi.

              Hasilnya, kasus tersebut ditingkatkan menjadi penyidikan pada Januari 2021. Kasus tersebut
              ditangani oleh penyidik pada Jampidsus berdasarkan surat perintah penyidikan Nomor: Print-
              02/F.2/Fd.2/01/2021.



                                                           156
   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161