Page 33 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 FEBRUARI 2021
P. 33

Berdasarkan  data  Direktorat  Lalu Lintas  Laut  (Ditlala)  Ditjen  Perhubungan  Laut  Kementerian
              Perhubungan  hingga  saat  ini  sudah  diterbitkan  sebanyak  769  Surat  Izin  Usaha  Perusahaan
              Keagenan Kapal atau SIUPKK. Sejak tahun 2016, Pemerintah RI melalui Permenhub No.11/2016
              telah  mengamanatkan, bahwa  usaha  keagenan  kapal  asing di  Indonesia  bisa dilakukan oleh
              perusahaan  angkutan  laut  pemegang  Surat  Izin  Usaha  Perusahaan  Angkutan  Laut  (SIUPAL)
              maupun  perusahaan  keagenan  kapal  yang  telah  mengantongi  Surat  Izin  Usaha  Perusahaan
              Keagenan Kapal (SIUPKK).

              Selain itu, untuk mendapatkan izin SIUPKK adalah kepemilikan sahamnya harus 100% dimiliki
              orang Indonesia atau berbadan hukum Indonesia. Ketua Umum DPP Indonesia Shipping Agency
              (ISAA) Juswandi Kristanto, mengatakan asosiasinya mengapresiasi Ditjen Hubla Kemenhub yang
              terus berkomitmen mendorong kemajuan iklim berusaha di sektor transportasi laut dengan telah
              menerbitkan sebanyak 769 SIUPKK dalam lima tahun terakhir (2017-2021).

              Rinciannya, yakni pada 2017 telah diterbitkan sebanyak 108 SIUPKK, pada 2018 sebanyak 186
              SIUPKK, pada 2019 sebanyak 229 SIUPKK, pada 2020 sebanyak 227 SIUPKK, dan pada 2021
              sebanyak  19  SIUPKK.  Jika  diasumsikan  satu  perusahaan  pemegang  SIUPKK  mempekerjakan
              rata-rata 20 orang pekerja maka terdapat sekitar 15.000 an pekerja di sektor usaha keagenan
              kapal pemegang SIUPKK itu.

              Menurut Juswandi, jumlah itu belum termasuk kegiatan keagenan kapal yang dilakukan oleh
              perusahaan angkutan laut nasional pemegang SIUPAL. Banyaknya serapan tenaga kerja tersebut
              sejalan dengan upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang terus memacu iklim berusaha
              dan penciptaan lapangan kerja.

              Apalagi, RI juga telah memiliki UU Cipta Kerja atau yang dikenal dengan Omnibus Law, yang
              salah satu semangatnya guna menumbuhkan lapangan kerja dan usaha kecil dan menengah
              (UMKM). Untuk itu, kata Juswandi, ISAA memberikan apresiasi pada UU Cipta Kerja No 11/2020
              sektor Pelayaran yang tetap memberikan ruang lahirnya usaha jasa keagenan kapal sebagai
              usaha jasa terkait. Hal ini tertuang dalam pasal 31 yang menyebutkan, untuk kelancaran kegiatan
              angkutan di perairan dapat diselenggarakan usaha jasa terkait yang antara lain adalah usaha
              jasa keagenan kapal. Bahkan Pemerintah saat ini tinggal mengesyahkan aturan turunan atau PP-
              nya dari UU tersebut. "Jika dilihat dari skala dan permodalan usahanya, keagenan kapal dapat
              dikategorikan UMKM," ujar Juswandi.

              Juswandi  mengungkapkan,  jika  pada  awalnya  sebagaimana  tertuang  dalam  Permenhub
              No.11/2016,  disebutkan  syarat  modal  yang  harus  dimiliki  oleh  perusahaan  keagenan  kapal
              adalah Rp 6 milliar.

              Namun kebijakan permodalan tersebut dianulir oleh Menteri Perhubungan dengan menerbitkan
              Permenhub No.24 tahun 2017 Tentang Pencabutan Persyaratan Kepemilikan Modal Badan Usaha
              di Bidang Pengusahaan Angkutan Laut, Keagenan Kapal, Pengusahaan Bongkar Muat (PBM) dan
              Badan Usaha Pelabuhan.

              Adapun  pengaturan  lebih  lanjut  usaha  keagenan  kapal  dipersyaratkan  sesuai  dengan  Online
              Single Submission (OSS), yaitu sistem baru berskala nasional dan dikembangkan pemerintah
              yang digunakan untuk pendaftaran izin usaha serta izin komersil. Berdasarkan Permenhub (PM)
              No. 65 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan dan pengusahaan keagenan kapal, pelayanan


                                                           32
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38