Page 430 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 JULI 2021
P. 430

jumlah karyawan perusahaan alih daya yang terkena PHK, baik yang merupakan anggota KSBSI
              maupun bukan, mencapai sekitar 20.000-an selama pandemi Covid-19 hingga Maret 2021 lalu.


              SERIKAT PEKERJA: KARYAWAN PERUSAHAAN ALIH DAYA YANG KENA PHK PERLU
              DIBERI BANTUAN

              Pekerja  perusahaan  jasa  alih  daya  atawa  outsource  menjadi  salah  satu  pekerja  yang  paling
              rentan  terdampak  pandemi  Covid-19  dan  efek  gulirnya.  Maklumlah,  sektor-sektor  seperti
              misalnya pusat perbelanjaan, ritel, dan sebagainya yang kerap menggunakan jasa ini menjadi
              salah dua sektor yang paling terpukul oleh efek gulir pagebluk Covid-19.

              Alhasil, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mengintai para pekerja perusahaan jasa alih
              daya.  Presiden  Konfederasi  Serikat  Buruh  Seluruh  Indonesia  (KSBSI)  Elly  Rosita  Silaban
              mengungkapkan,  jumlah  karyawan  perusahaan  alih  daya  yang  terkena  PHK,  baik  yang
              merupakan anggota KSBSI maupun bukan, mencapai sekitar 20.000-an selama pandemi Covid-
              19 hingga Maret 2021 lalu.

              “Itu  data  yang  kami  dapat  dari  beberapa  sumber,”  katanya  ketika  dihubungi  Kontan.co.id,
              Minggu (25/7).

              Sayangnya, tidak semua karyawan perusahaan jasa alih daya yang terkena PHK terjamin hak-
              hak  ketenagakerjaannya.  Hal  ini  umumnya  terjadi  pada  karyawan-karyawan  yang  tidak
              tergabung ke dalam serikat pekerja.

              Di sisi lain, upaya untuk menuntut penjaminan hak-hak karyawan perusahaan alih daya yang
              terkena PHK juga sulit dilakukan di masa pandemi Covid-19.

              “Kalau dulu di masa normal, kita bisa nuntut ke mana-mana, karena ada juga perjanjian kerja
              meski mereka outsourcing, kalau sekarang (pandemi Covid-19) kondisinya agak susah,” ujar Elly.

              Risiko yang mengintai para pekerja perusahaan alih daya tidak hanya PHK semata.

              Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI Kahar S Cahyono mengatakan, kontrak kerja
              para karyawan alih daya kini semakin pendek. Jika dahulu rata-rata durasi kontrak alih daya 6 -
              12 bulan, dalam situasi sekarang ini buruh kontrak/outsourcing banyak yang dikontrak 1-3 bulan
              saja.

              Selain itu, model pengupahannya juga mengandalkan sistem harian. Alhasil, buruh hanya dibayar
              ketika  masuk  bekerja,  tapi  ketika  pekerjaan  sepi  buruh  tidak  dipekerjakan  dan  upah  tidak
              dibayar.

              “Buruh  outsourcing  yang  terpapar  Covid  dan  melakukan  Isoman  (isolasi  mandiri),  tidak
              mendapat  bantuan  dari  perusahaan  tempat  bekerja.  Karena  dianggap  karyawan  dari  agen
              outsourcing atau penyedia jasa tenaga kerja,” kata Kahar.
              Di  tengah  kesulitan  tersebut,  Elly  berharap  agar  bantuan  subsidi  umum  (BSU)  juga  bisa
              disalurkan kepada tenaga kerja alih daya yang terdampak PHK. Berikutnya, Elly juga berharap
              agar  setidaknya  upah  karyawan  alih  daya  yang  masih  bekerja  bisa dibayarkan  sebagaimana
              mestinya sesuai dengan jam dan beban kerja.
              “Kecuali jam kerja dikurangi, hari kerja dikurangi, berarti kan wajar dong upah kita dikurangi
              karena memang jam kerja dan beban kerja kita berkurang, tapi kalau misalnya jam kerja dan
              beban kerja tidak dikurangi, apa haknya (perusahaan) memotong (upah),” kata Elly



                                                           429
   425   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435