Page 586 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 JULI 2021
P. 586

SUBSIDI UPAH TAHAN PENURUNAN DAYA BELI

              Ekonom menilai tepat rencana Pemerintah kembali memberikan Bantuan Subsidi Upah (BSU)
              sebesar  Rp  1  Juta  untuk  para  pekerja  terdampak  Pemberlakuan  Pembatasan  Kegiatan
              Masyarakat (PPKM) Level 4. Sebab, kebijakan ini bisa menahan penurunan daya beli.

              "DALAM konteks menjaga daya beli, memang BSU ini bisa menjadi bantalan. Khususnya bagi
              para pekerja dengan pendapatan menengah ke bawah, agar daya beli mereka tidak jatuh lebih
              dalam dengan adanya kebijakan PPKM." kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE)
              Indonesia Yusuf Rendy, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

              Menurut Yusuf, dampak BSU bakal lebih maksimal jika diberikan bersama jenis bantuan lainnya.
              Seperti bantuan sembako hingga bantuan langsung tunai bagi rumah tangga berpenghasilan
              rendah.

              Dia  menilai,  kebijakan  ini  berpotensi  berjalan  mulus.  Sebab,  data  pekerja  dimiliki  Badan
              Perlindungan Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Badan ini memiliki data lengkap mulai dari
              gaji sampai alamat rumah pekerja.

              Pemerintah bisa memetakan, apakah penerima bantuan masuk zona merah postitivity rate tinggi
              yang masuk colongan PPKM level 4.

              "Jika dibarengi bantuan sembako, bisa menimalisir pergerakan pekerja karena tidak perlu keluar
              untuk membeli sembako," kata Yusuf.
              Soal sasaran BSU yang hanya untuk pekerja formal, Yusuf menerangkan, bantuan ini bersifat
              komplementer dari bantuan Pemerintah lainnya. Cakupan penerimanya memang terbatas.

              Yang terpenting, lanjut Yusuf, harus dipastikan, penerima bantuan adalah orang yang tepat dan
              harus sesuai kriteria penerima. Dengan begitu, penyaluran BSU ini bisa tepat sasaran.

              "Kedepan,  Pemerintah  seharusnya  mengalokasikan  juga  untuk  pekerja  informal.  Hal  itu  bisa
              diberikan melalui bantuan kartu pra-kerja dan juga BST (Bantuan Sosial Tunai) pada kelompok
              pendapatan menengah ke bawah," ujar Yusuf.

              Ia menekankan, kebijakan ini belum bisa menjadi jaminan angka pemutusan hubungan kerja
              (PHK) bisa ditekan. Karena PHK pada umumnya terkait efisiensi.
              "Efisiensi  itu  dilakukan  karena  beban  perusahaan  tetap  namun  pendapatan  perusahaan
              berkurang  karena  melemahnya  permintaan  barang  dan  jasa  dari  masyarakat  karena  siklus
              ekonomi yang melambat," sambung Yusuf.

              Sementara, Direktur Utama BPJS Ketenakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengatakan, hingga saat
              ini pihaknya masih menunggu regulasi BSU dari Pemerintah sebelum mencairkannya kepada
              pekerja yang memenuhi kriteria.

              "Sebagai  mitra  penyedia  data,  sebelumnya  juga  kami  telah  menyampaikan  usulan-usulan
              alternatif penerima BSU. Tentunya data yang akan kami serahkan sesuai regulasi yang akan
              ditetapkan Pemerintah", tutur Anggoro dalam keterangannya, Jumat (23/7).

              Regulasi tersebut akan mengatur syarat dan kriteria tentang detail peserta BP Jamsostek yang
              berhak mendapatkan BSU, seperti kelompok segmen pekerja, tanggal kepesertaan aktif, besaran
              upah maksimum, kategori jenis industri dan wilayah terdampak, serta besaran BSU yang akan
              diterima.

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  mengungkapkan,  hingga  saat  ini  pihaknya
              masih terus mematangkan kebijakan penyaluran BSU tahun 2021.
                                                           585
   581   582   583   584   585   586   587   588   589   590   591