Page 417 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JUNI 2021
P. 417

SIDAK DI JAKTIM, KEMNAKER GAGALKAN PENGIRIMAN 11 PEKERJA MIGRAN
              ILEGAL
              Kementerian  Ketenagakerjaan  berhasil  menggagalkan  pengiriman  11  Calon  Pekerja  Migran
              Indonesia  (CPMI)  non  prosedural  yang  direkrut  dan  akan  diberangkatkan  oleh  orang
              perseorangan sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke Timur Tengah.

              Hal  itu  terjadi  saat  Tim  Satgas  Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (Satgas  PPMI)  dari
              Direktorat Bina Penempatan dan Pelindungan Migran Indonesia dan Pengawas Ketenagakerjaan,
              Kemnaker melakukan Inspeksi Mendadak pada Kamis (17/6) di daerah Halim Perdanakusuma,
              Makassar, Jakarta Timur.

              Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker, Suhartono menjelaskan, 11 CPMI yang akan dikirimkan ke
              Timur  Tengah  ini  dijanjikan  pekerjaan  dengan  upah  yang  tinggi  dan  kemudahan  dalam
              mengurusi prosesnya.

              Atas  kejadian  tersebut,  Dirjen  Suhartono  mengimbau  masyarakat  untuk  berhati-hati  dan
              waspada jika ada pihak-pihak yang merayu untuk bekerja ke luar negeri dengan mudah, apalagi
              untuk bekerja ke luar negeri sebagai PLRT di negara Timur Tengah.

              "Pastikan  bahwa  informasi  penempatan  PMI  ke  luar  negeri  didapatkan  atau  diklarifikasi
              sebelumnya melalui Dinas Ketenagakerjaan atau Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) Provinsi
              atau  Kabupaten/Kota  setempat.  Para  pencari  kerja  juga  dapat  mengakses  karir  hub  melalui
              aplikasi  Sisnaker  yang  tersedia  pada  smartphone  android  untuk  mencari  segala  informasi
              ketenagakerjaan," kata Dirjen Suhartono.

              Koordinator  PPMI,  Direktorat  Bina  Penempatan  dan  Pelindungan  Migran  Indonesia,  Ridho
              Amrullah mengemukakan, Sidak dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi dari masyarakat
              bahwa terdapat CPMI yang akan di berangkatkan ke Timur Tengah.

              "Kami mendapat informasi bahwa para CPMI akan dikirim ke negara Irak dan Uni Emirat Arab
              yang ditampung pada dua kamar kos berlantai dua," Ridho.

              Ridho mengatakan, 11 CPMI yang akan dikirim ini tidak dilengkapi dokumen sebagaimana yang
              dipersyaratkan,  sehingga  membuat  pelindungan  terhadap  mereka  menjadi  rentan.  11  CPMI
              tersebut  berasal  dari  berbagai  daerah,  yaitu,  Bangka  Belitung,  Madiun,  Pandeglang,  Musi
              Banyuasin Sumsel, Karawang, Sukabumi, Papua, Lampung Utara, Bandung, Purbalingga, dan
              Cilegon.

              Menurut  Ridho,  rencana  pengiriman  CPMI  ke  luar  negeri  ini  melanggar  Keputusan  Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 260 Tahun 2015 Tentang Penghentian Dan Pelarangan Penempatan
              Tenaga  Kerja  Indonesia  Pada  Pengguna  Perseorangan  Di  Negara-Negara  Kawasan  Timur
              Tengah.

              "Pelanggaran  juga  diduga  terjadi  terhadap  Undang-Undang  Nomor  18  Tahun  2017  tentang
              Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia,  di  mana  pemerintah  melarang  pengiriman  PMI  ke
              kawasan Timur Tengah untuk sektor domestik dan rumah tangga," kata Ridho.

              Plt. Direktur Bina Penempatan dan Pelindungan Migran Indonesia, Yuli Adiratna menyatakan
              pihaknya bersama Pengawas Ketenagakerjaan dan kepolisian akan mendalami adanya indikasi
              tindak  pidana  pada  kasus  ini.  Kemnaker  juga  akan  bersikap  tegas  kepada  perusahaan
              penempatan PMI yang terlibat dalam kasus ini.

              "Selanjutnya,  penanganan  para  calon  pekerja  migran  tersebut  akan  dikoordinasikan  dengan
              Kepolisian RI agar dapat dilakukan penanganan lebih lanjut," kata Yuli.

                                                           416
   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422