Page 413 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JUNI 2021
P. 413

SIDAK, KEMNAKER GAGALKAN 11 CALON PEKERJA MIGRAN ILEGAL

              Kementerian  Ketenagakerjaan  berhasil  menggagalkan  pengiriman  11  Calon  Pekerja  Migran
              Indonesia  (CPMI)  non  prosedural  yang  direkrut  dan  akan  diberangkatkan  oleh  orang
              perseorangan sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke Timur Tengah.

              Hal  itu  terjadi  saat  Tim  Satgas  Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (Satgas  PPMI)  dari
              Direktorat Bina Penempatan dan Pelindungan Migran Indonesia dan Pengawas Ketenagakerjaan,
              Kemnaker melakukan Inspeksi Mendadak pada Kamis (17/6) di daerah Halim Perdanakusuma,
              Makassar, Jakarta Timur.

              Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker Suhartono menjelaskan 11 CPMI yang akan dikirimkan ke
              Timur  Tengah  ini  dijanjikan  pekerjaan  dengan  upah  yang  tinggi  dan  kemudahan  dalam
              mengurusi prosesnya.

              Atas kejadian tersebut, Suhartono mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan waspada jika
              ada pihak-pihak yang merayu untuk bekerja ke luar negeri dengan mudah, apalagi untuk bekerja
              ke luar negeri sebagai PLRT di negara Timur Tengah.

              "Pastikan  bahwa  informasi  penempatan  PMI  ke  luar  negeri  didapatkan  atau  diklarifikasi
              sebelumnya melalui Dinas Ketenagakerjaan atau Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) Provinsi
              atau Kabupaten/Kota setempat," bebernya.

              Dia juga mengimbau para pencari kerja juga dapat mengakses karir hub melalui aplikasi Sisnaker
              yang tersedia pada smartphone android untuk mencari segala informasi ketenagakerjaan.

              Koordinator  PPMI  Direktorat  Bina  Penempatan  dan  Pelindungan  Migran  Indonesia  Ridho
              Amrullah mengemukakan Sidak dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi dari masyarakat
              bahwa terdapat CPMI yang akan di berangkatkan ke Timur Tengah.
              "Kami mendapat informasi bahwa para CPMI akan dikirim ke negara Irak dan Uni Emirat Arab
              yang ditampung pada dua kamar kos berlantai dua," Ridho.

              Ridho mengatakan 11 CPMI yang akan dikirim ini tidak dilengkapi dokumen sebagaimana yang
              dipersyaratkan, sehingga membuat pelindungan terhadap mereka menjadi rentan.

              Sebanyak  11  CPMI  tersebut  berasal  dari  berbagai  daerah,  yaitu,  Bangka  Belitung,  Madiun,
              Pandeglang, Musi Banyuasin Sumsel, Karawang, Sukabumi, Papua, Lampung Utara, Bandung,
              Purbalingga, dan Cilegon.

              Menurut  Ridho,  rencana  pengiriman  CPMI  ke  luar  negeri  ini  melanggar  Keputusan  Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 260 Tahun 2015 Tentang Penghentian Dan Pelarangan Penempatan
              Tenaga  Kerja  Indonesia  Pada  Pengguna  Perseorangan  Di  Negara-Negara  Kawasan  Timur
              Tengah.

              "Pelanggaran  juga  diduga  terjadi  terhadap  Undang-Undang  Nomor  18  Tahun  2017  tentang
              Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia,  di  mana  pemerintah  melarang  pengiriman  PMI  ke
              kawasan Timur Tengah untuk sektor domestik dan rumah tangga," kata Ridho.

              Plt.  Direktur  Bina  Penempatan  dan  Pelindungan  Migran  Indonesia  Yuli  Adiratna  menyatakan
              pihaknya bersama Pengawas Ketenagakerjaan dan kepolisian akan mendalami adanya indikasi
              tindak  pidana  pada  kasus  ini.  Kemnaker  juga  akan  bersikap  tegas  kepada  perusahaan
              penempatan PMI yang terlibat dalam kasus ini.

              "Selanjutnya,  penanganan  para  calon  pekerja  migran  tersebut  akan  dikoordinasikan  dengan
              kepolisian agar dapat dilakukan penanganan lebih lanjut," kata Yuli.

                                                           412
   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417   418