Page 592 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JUNI 2021
P. 592

Dengan fakta ini, kata dia, justru seharusnya pemerintah yang proaktif dengan memaksimalkan
              fungsi mediator dan pengawas Ketenagakerjaan. "Banyak hak-hak normatif pekerja di sektor
              perkebunan sawit, khususnya untuk pekerja harian lepas (PHL) yang diabaikan oleh pengusaha
              kelapa sawit," kata dia.

              Timboel menegaskan, peran Kemnaker dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) di Kabupatan dan
              Provinsi sangat lemah untuk memastikan hak-hak normatif dapat dinikmati para PHL. "Lokasi
              perkebunan yang sangat jauh dari kota dan rendahnya pengawasan dan penegakkan hukum
              menyebabkan para PHL menjadi pekerja dalam kategori berada di lingkungan pekerjaan rentan,"
              kata dia.

              Pekerjaan  rentan  atau  biasa  disebut  dengan  precarious  work,  dalam  pengertian  yang  paling
              umum, adalah sebuah kondisi kerja tanpa standar dimana pekerja/buruh memiliki upah rendah,
              tidak aman, tidak ada kestabilan kelangsungan pekerjaan, tanpa perlindungan, dan tidak dapat
              menghidupi rumah tangga.

              Menurut Timboel, pekerja rentan umumnya ditentukan oleh beberapa hal di antaranya adalah,
              pertama, ketidakpastian mengenai status dan masa kerja.

              Kedua, kemungkinan banyaknya pemberi kerja (majikan) atau majikan yang disamarkan atau
              hubungan  kerja  ambigu  yakni  pekerja  yang  dipekerjakan  oleh  agen  atau  sub-kontraktor,
              sehingga membuat pekerja berada dalam situasi yang sulit ketika tidak ada kejelasan mengenai
              siapa  pihak  yang  harus  bertanggung  jawab  dan  harus  mempertanggungjawabkan  hak  dan
              manfaat pekerja.

              Ketiga, hak-hak pekerja yang tidak memadai atau bahkan tidak ada.

              Keempat, kurangnya akses terhadap jaminan sosial dan manfaat biasanya berhubungan dengan
              pekerjaan.

              Kelima, upah rendah dan keenam, hambatan praktikal untuk bergabung dengan serikat pekerja
              dan membuat perjanjian kerja bersama.

              Menurut Timboel, sebenarnya ketentuan tentang hubungan kerja PHL sudah diatur di Keputusan
              Menteri  Tenaga  Kerja  dan  Trasmigrasi  (Kepmenakertrans)  Nomor  KEP.  100/MEN/VI/2004
              tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PWKT).

              Mengacu pada Bab V Pasal 10 pada ayat (1) dinyatakan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu
              yang  berubah-ubah  dalam  hal  waktu  dan  volume  pekerjaan  serta  upah  didasarkan  pada
              kehadiran, dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian lepas.

              Sementara ayat (2)-nya mengatakan perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dalam
              ayat (1) dilakukan dengan ketentuan pekerja/buruh bekerja kurang dari 21 hari dalam 1 bulan.
              Dan ayat (3) nya menegaskan bahwa dalam hal pekerja/buruh bekerja 21 hari atau lebih selama
              3 bulan berturut-turut atau lebih maka perjanjian kerja harian lepas berubah menjadi pekerja
              waktu tidak tentu (PKWTT) atau pekerja tetap.

              Para PHL umumnya bertahun-tahun bekerja dengan status hubungan kerja harian, walaupun
              syarat  yang  dinyatakan  dalam  Kepmenakertrans)  Nomor  KEP.  100/MEN/VI/2004  sudah
              dilanggar.  Jenis  pekerjaan  yang  dilakukan  merupakan  pekerjaan  tetap  yang  selalu  ada  di
              perkebunan namun tidak berkelanjutan, tergantung pada musimnya.






                                                           591
   587   588   589   590   591   592   593   594   595   596   597