Page 156 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 156
TELAT BAYAR THR, PERUSAHAAN BISA DIBEKUKAN DAN DENDA 5 PERSEN
RMOLBANTEN Tunjangan Hari Raya (THR) oleh pengusaha kepada pekerja menjelang hari raya,
baik perusahaan lama maupun baru. Khususnya, di tengah pademi Covid-19.
"THR sekurang-kurangnya dibayarkan tujuh hari sebelum hari raya," ujar Direktur Pengupahan
Ditjen PHI JSK Kemnaker, Dinar Titus Jogaswitani di Webinar "Cerdas Kelola THR" oleh Kominfo
dan Komite Penanganan Covid-19 Dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu, (21/4).
Dinar menambahkan, tetap wajib membayar THR sekalipun tidak sesuai tenggat waktu. Namun
perlu dialog antara pengusaha dan pekerja untuk kesepakatan tertulis. Perjanjian tertulis
tersebut, lanjutnuya, harus dilaporkan perusahaan kepada Dinas Tenaga Kerja paling lambat
tujuh hari sebelum hari raya keagamaan.
Titus menekankan, jika perusahaan atau pengusaha terlambat membayar THR, maka akan
dikenakan denda lima persen dari jumlah THR yang dibayarkan kepada para pekerjanya. Denda
tersebut dikelola dan dipergunakan untuk kesejahteraan pekerja.
"Ada sanksi yang akan diberlakukan ke perusahaan yang tidak membayar THR. Antara lain,
pembatasan kegiatan usaha, penghentian sementara bagi sebagian atau seluruh alat produksi,
hingga pembekuan kegiatan usaha," tutupnya.
Sementara itu, menurut perencana keuangan, Mike Rini Sutikno, THR dapat memulihkan
ekonomi nasional dari dampak pademi Covid-19. Namun, penerima THR perlu mengelola dengan
bijak. Menurutnya, THR bukan untuk dihabiskan pada saat hari raya. Melainkan, dipergunakan
untuk biaya pengeluaran setelah hari raya usai.
"Pola pikir kita mengenai THR perlu diubah. THR bukan rezeki yang datang untuk dihabiskan
semua pada saat hari raya," urainya.
Selain itu, Mika menambahkan, pengelolaan THR perlu dibagi ke beberapa pos pengeluaran.
Pertama, untuk prioritas. Artinya, menabung dana darurat, pelunasan hutang, serta investasi
masa depan. "Dana darurat sangat penting. Karena masa epidemi ini situasi tidak pasti. Proporsi
pos prioritas ini 10-30 persen dari THR yang didapat," terangnya.
Mike menjelasnkan, pos pengeluaran THR selanjutnya adalah zakat, infak, dan sedekah dengan
proporsi 10 persen THR. Pengeluaran untuk sajian khas hari raya sebesar 5-15 persen THR.
Pengeluaran untuk busana dan perlengkapan ibadah dialokasikan sebesar 5-15 persen THR yang
di dapat.
"Saat hari raya, tidak perlu semua yang kita pakai mesti baru. Upayakan belanja berdasarkan
kebutuhan bukan atas dasar keinginan," tuturnya.
Dia menambahkan dana THR dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti liburan, halal
bihalal, renovasi rumah. "Keperluan seperti ini dialokasikan hanya sekitar 10-15 persen,"
demikian Mike.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Komunikasi Korporat, Danone Indonesia Arif Mujahidin
mengatakan THR merupakan salah satu bentuk dukungan kepada karyawan. "Ketika karyawan
bahagia, maka produktivitas pun ikut meningkan," pungkasnya.
155

