Page 303 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 303

Pekerja/buruh PKWTT dan PKWT yang berhak menerima THR adalah mereka yang sudah bekerja
              di perusahaan yang bersangkutan minimal satu bulan secara terus menerus atau lebih.

              Berdasarkan  Permenaker  yang  sama, besaran  THR  yang diterima  setiap  pekerja/buruh  akan
              berbeda-beda tergantung pada besaran upah yang dia terima.

              Bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 12 bulan secara berturut-turut, maka besaran
              THR adalah sebesar upah bulanannya.

              Sementara bagi mereka yang masa kerjanya masih di bawah 1 tahun, namun sudah lebih dari 1
              bulan, besaran THR yang diberikan bersifat proporsional tergantung lamanya ia bekerja.

              Perhitungannya adalah masa kerja (bulan):12 x upah 1 bulan.

              Misalnya, seseorang sudah bekerja selama 3 bulan dan upah bulanannya sebesar Rp4.800.000,
              maka ia akan menerima 3:12xRp4.800.000= Rp1.200.000.

              Apabila  perusahaan  memiliki  aturan  besaran  THR  yang  lebih  besar  dari  yang  ditentukan
              Pemerintah,  maka  diperkenankan  mengacu  aturan  internal  yang  telah  disepakati  dengan
              pekerja/buruh atau sudah menjadi kebiasaan.

              Dalam satu tahun, THR diberikan hanya 1 kali di saat menjelang perayaan hari raya keagamaan.

              Setiap pekerja/buruh akan menerima THR sebelum menjelang hari raya keagamaannya.


              Untuk yang beragama Islam berarti sebelum Lebaran, untuk pemeluk Nasrani berarti sebelum
              Natal, dan seterusnya.

              Ada pun batasan waktu pencairan THR berdasarkan Permenker 6/2016 adalah maksimal 7 hari
              sebelum jatuhnya hari raya keagamaan.

              Namun, mengingat tahun ini masih dalam suasana pandemi Covid-19 dan banyak perusahaan
              yang secara keuangan terdampak, maka ada penyesuaian dalam pemberian THR kepada para
              pekerja/buruhnya.

              Keringanan  tersebut  diatur  dalam  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  Republik  Indonesia
              Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan
              Tahun 2021 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Perusahaan diberikan keringanan untuk bisa mencairkan THR tidak dalam batas 7 hari sebelum
              hari raya, dengan catatan THR harus sudah cair sebelum hari raya itu tiba.

              Waktu  pemberian  THR  ini  harus  dibicarakan  dengan  kelompok  pekerja/buruh  secara
              kekeluargaan agar tidak adanya kesalahpahaman dan lahir kesepakatan.

              Meski ada sedikit toleransi, namun ini bukan berarti menghilangkan kewajiban perusahaan untuk
              membayarkan THR sesuai dengan besaran yang seharusnya.

              Lebih  lanjut,  perusahaan  harus  membuktikan  bahwa  pihaknya  memang  tidak  mampu  untuk
              memberikan  THR  tepat  waktu  sesuai  ketentuan  Permenaker  6/2016,  berdasarkan  laporan
              keuangan internal perusahaan yang transparan.


                                                           302
   298   299   300   301   302   303   304   305   306   307   308