Page 276 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 276

Ringkasan

              Pemerintah  dalam  hal  ini  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  dan  seluruh  pengawas
              ketenagakerjaan di tingkat kabupatan dan kota di seluruh Indonesia agar turun langsung ke
              perusahaan-perusahaan  terutama  perusahaan  garmen  dan  tekstil.  Tujuannya  agar  pihak
              perusahaan tidak menindas para pekerja dan buruh di saat pandemic Covid-19 ini. Demikian
              benang  merah  diskusi  virtual  Aliansi  Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh  Sektor  Tekstil,  Garmen,
              Sepatu dan Kulit, Senin (19/7/2021).



              PEMERINTAH HARUS AWASI PERUSAHAAN AGAR TAK MENINDAS PEKERJA SAAT
              PANDEMI COVID-19


              Pemerintah  dalam  hal  ini  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  dan  seluruh  pengawas
              ketenagakerjaan di tingkat kabupatan dan kota di seluruh Indonesia agar turun langsung ke
              perusahaan-perusahaan  terutama  perusahaan  garmen  dan  tekstil.  Tujuannya  agar  pihak
              perusahaan tidak menindas para pekerja dan buruh di saat pandemic Covid-19 ini.

              Demikian  benang  merah  diskusi  virtual  Aliansi  Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh  Sektor  Tekstil,
              Garmen, Sepatu dan Kulit, Senin (19/7/2021).

              Tampil sebagai pembicara dalam acara itu adalah Sekjen Gabungan Serikat Buruh Indonesia,
              Emelia  Yanti  Siahaan;  Pengurus  Serikat  Pekerja  Nasional  (SPN),  Sumiyati;  Pimpinan  Pusat
              Federasi Serikat Pekerja Indonesia, Dion Untung Wijaya; Sekjen Sebumi, Susi Rahayu Transiska.

              Dion Untung Wijaya mengatakan, sejak UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta
              aturan  turunan  yakni  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  35  Tahun  2021  diberlakukan,  para
              pengusaha sungguh memberlakukan pekerja dan buruh secara tidak manusiawi.
              Di mana sebelumnya, pekerja dan buruh dengan status pekerja dan buruh tetap, namun setelah
              UU Cipta diberlakukan semuanya menjadi pekerja kontrak. “Ada yang kontrak bulanan, dan ada
              yang kontrak harian,” kata dia.

              Di  saat  pandemic  Covid-19,  kata  dia,  banyak  perusahaan  terutama  perusahaan-perusahaan
              garmen dan tekstil memawajibkan pekerja dan buruh tetap masuk kerja.

              Kalau tidak masuk kerja, maka gaji tidak dibayar bahkan dipecat. “Di sinilah dilemanya para dan
              buruh. Pekerja dan buruh umumnya memilih tetap bekerja walau dalam keadaan sakit-sakitan,"
              kata dia.

              Karena diwajibkan tetap bekerja, kata dia, banyak pekerja dan buruh sepertinya positif Covid-
              19 namun diabaikan. “Ada yang dites swab di tempat kerja dan dinyatakan positif Covid-19,
              disuruh pulang ke rumah isolasi mandiri. Pihak perusahaan tidak menyediakan tempat isolasi,
              tidak memberikan obat-obatan. Sementara gaji ya harian. Ini kejam,” kata dia.

              Untuk itu, Dion mendesak pemerintah agar beri sanksi tegas kepada perusahaan-perusahaan
              yang tetap memperkerjakan karyawannya di saat ini pandemic. “Kalau pekerja dan buruh tidak
              bekerja, gajinya harus tetap diberikan. Pemerintah harus menjamin,” kata dia.

              Menurut Dion, memang tidak semua perusahaan yang kejam di saat masa pandemic Covid-19.
              “Ada banyak juga perusahaan yang memperhatikan hak-hak pekerja, seperti menjamin obat-
              obatan untuk pekerja agar imun terhadap Covid-19, selain tetap memberi gaji yang lumayan,”
              kata dia.





                                                           275
   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281