Page 379 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 379

Ringkasan

              Penegakan  hukum  yang  tegas  bagi  perusahaan  yang  melanggar  ketentuan  pembayaran
              tunjangan hari raya keagamaan sejauh ini baru sebatas retorika. Sanksi yang diberikan pun tidak
              menimbulkan efek jera sehingga kasus pelanggaran terus berulang. Dengan jumlah pengaduan
              yang naik signifikan tahun ini, ketegasan pemerintah semakin diperlukan. Posko Tunjangan Hari
              Raya (THR) Keagamaan 2021 Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, selama periode 20 April
              sampai 6 Mei 2021, ada 1.569 laporan yang masuk. Jumlah itu terdiri dari 670 laporan yang
              sifatnya konsultasi dan 889 laporan yang sifatnya pengaduan.



              SANKSI HANYA RETORIKA, PELANGGARAN THR TERUS BERULANG

              Penegakan  hukum  yang  tegas  bagi  perusahaan  yang  melanggar  ketentuan  pembayaran
              tunjangan hari raya keagamaan sejauh ini baru sebatas retorika. Sanksi yang diberikan pun tidak
              menimbulkan efek jera sehingga kasus pelanggaran terus berulang. Dengan jumlah pengaduan
              yang naik signifikan tahun ini, ketegasan pemerintah semakin diperlukan.

              Posko Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan 2021 Kementerian Ketenagakerjaan mencatat,
              selama periode 20 April sampai 6 Mei 2021, ada 1.569 laporan yang masuk. Jumlah itu terdiri
              dari 670 laporan yang sifatnya konsultasi dan 889 laporan yang sifatnya pengaduan.

              Beberapa persoalan yang diadukan antara lain perusahaan sama sekali tidak membayarkan THR,
              hanya membayar sebagian, membayar bertahap dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan,
              membayar THR bukan dalam bentuk uang, serta pengaduan mengenai perusahaan yang tidak
              mampu membayar THR karena terdampak pandemi Covid-19.

              Pengaduan tahun ini meningkat signifikan dibandingkan dengan laporan Posko THR Lebaran
              tahun 2020 yang berjumlah 410 laporan.

              Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Anwar Sanusi, mayoritas kasus yang
              masuk adalah THR yang dicicil. Ada perusahaan yang baru membayar 50 persen atau 25 persen.
              ”Ada relaksasi sampai H-1. Bisa saja perusahaan masih mencari uang untuk membayar sampai
              H-1. Kami terus monitor,” katanya saat dihubungi, Jumat (7/5/2021).

              Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar mengatakan,
              dari tahun ke tahun, pengawasan dan penegakan sanksi terhadap pelanggaran pembayaran THR
              masih sangat lemah. Di atas kertas, pemerintah memang telah mengatur sanksi bagi perusahaan
              yang melanggar aturan pembayaran THR.

              Dari tahun ke tahun, pengawasan dan penegakan sanksi terhadap pelanggaran pembayaran
              THR masih sangat lemah.
              Sanksi  diberikan  bertahap,  dari  teguran  tertulis,  pembatasan  kegiatan  usaha,  penghentian
              sementara  sebagian/seluruh  alat  produksi,  sampai  pembekuan  kegiatan  usaha.  Sanksi
              direkomendasikan  oleh  pengawas  ketenagakerjaan  ke  gubernur,  bupati,  atau  wali  kota
              setempat.

              Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 20 Tahun 2016 tentang Tata
              Cara Pemberian Sanksi Administratif tentang Pengupahan.

              Namun, nyatanya, sanksi yang diberikan hanya sebatas teguran tertulis. ”Pengusaha tahu, tidak
              mungkin izin operasional mereka dicabut karena pemerintah daerah akan kehilangan sumber
              pendapatan dan pengangguran justru akan meningkat. Sampai saat ini, tidak ada perusahaan
              pengemplang THR yang izin usahanya dicabut,” papar Timboel.

                                                           378
   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384