Page 532 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 532

Buruh  meyakini,  tetap  ada  perusahaan  yang  beroperasi  normal  meski  di  tengah  pandemi.
              Setidaknya  itu  dialami  oleh  Wahyu  Aji  Purwoko,  di  Salatiga,  Jawa  Tengah.  Kepada  VOA  dia
              mengaku, sejak awal COVID-19 melanda, perusahaan tempatnya bekerja tidak terdampak.

              "Soalnya kerjanya itu tetap sama, pandemi atau tidak. Tetap ada lemburan, tetap ada kerjaan,
              temen-temen lemburnya juga sampai malam. Buruh baru juga tetap ada, maksudnya terus ada
              lowongan," ujar Wahyu yang juga pengurus Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI).

              Para  pekerja  meneriakkan  slogan-slogan  saat  protes  menuntut  kenaikan  upah  di  Jakarta  1
              November 2013. (Foto: Reuters/Beawiharta) Tahun ini, ujarnya, bahkan tidak banyak terdengar
              pemutusan hubungan kerja di pabrik-pabrik di Jawa Tengah, seperti halnya di awal pandemi.
              Karena itulah, Wahyu berharap proses pembayaran THR Lebaran tahun ini lebih lancar.

              Cicilan THR Ditolak Sayangnya, Menteri Tenaga Kerja justru mengeluarkan Surat Edaran (SE)
              Menaker Nomor M/6/HK.04/IV/2021. Kebijakan tentang pemberian THR tahun 2021 bagi pekerja
              atau  buruh  ini  dinilai  berpotensi  melanggar  hak-hak  buruh.  Ada  kekhawatiran,  banyak
              perusahaan memanfaatkan SE Menaker tersebut sebagai dalih mengurangi hak-hak buruh di
              tegah pandemi COVID 19.

              Buruh  menilai,  SE  Menaker  ini  bertentangan  dengan  Peraturan  Menteri  Tenaga  Kerja
              (Permenaker) Nomor 6 tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh
              di Perusahaan. Permenaker ini mengatur THR harus dibayarkan secara tunai selambat-lambatnya
              H-7 hari raya keagamaan. Mereka yang berhak menerima adalah pekerja tetap, pekerja kontrak,
              pekerja outsourcing, dan pekerja harian. Dalam Permenaker ini, tidak ada satupun ketentuan
              yang membenarkan pembayaran THR secara dicicil.

              Namun di Jawa Tengah, kabar mengenai THR yang dicicil ini sudah mengemuka di sebagian
              wilayah. Karena itulah, LBH Semarang dan sejumlah serikat buruh mendirikan posko khusus
              untuk memantau persoalan ini hingga Lebaran nanti. Selain LBH Semarang, mereka yang terlibat
              adalah Kasbi Jateng, FSPIP-Kasbi, Federasi Serbuk Indonesia, FSBPI, FSPRIN, SP PUBG, dan SP
              Danamon Posko dibuka hingga 15 Mei 2021.
              Seorang pekerja protes saat membawa tanda bertuliskan "tolak upah murah" menuntut upah
              lebih tinggi di depan Istana Kepresidenan di Jakarta, 29 November 2011. (Foto: Reuters/Enny
              Nuraheni) "Kami akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk," ujar Wahyu.

              Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah sendiri sudah memperkirakan bahwa
              20 persen dari total 1600-an perusahaan di wilayah itu akan mencicil THR kali ini. SE Menaker
              membuka  kesempatan  itu,  tetapi  dengan  syarat  bahwa  buruh  menyetujuinya.  Perusahaan
              bahkan harus menunjukkan laporan keuangan sebagai salah satu syaratnya.

              Tentu saja tidak semua buruh bisa menerima cicilan pembayaran THR. Ribuan buruh di PT Pan
              Brothers, di Boyolali, Jawa Tengah misalnya, pada Rabu, 5 Mei 2021 melakukan aksi unjuk rasa
              terkait  hal  ini.  Dalam  keterangan  resmi  tertanggal  6  Mei,  perusahaan  menyatakan  terpaksa
              mencicil  THR  karena  arus  kas  yang  terganggu.  Direksi  juga  menyanggupi  pembayaran  THR
              secara dicicil maksimal lima kali.

              Demo serupa juga dilakukan ratusan buruh PT Eco Smart Garment Indonesia pada 6 Mei 2021.
              Sementara di Brebes, Jawa Tengah, ratusan buruh PT Agung Pelita Industrindo (API) protes
              karena THR yang diberikan perusahaan hanya Rp50 ribu.
              Pemerintah  Harus  Berpihak  Dian  Septi  Trisnanti  dari  Federasi  Serikat  Buruh  Transportasi
              Pelabuhan  Indonesia  (FSBTPI)  mencatat,  sejumlah  laporan  yangmasuk  ke  federasi  terkait
              pembayaran THR.



                                                           531
   527   528   529   530   531   532   533   534   535   536   537