Page 35 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 35

"THR  Keagamaan  juga  diberikan  kepada  pekerja/  buruh  yang  mempunyai  hubungan  kerja
              dengan  pengusaha  berdasarkan  perjanjian  kerja  waktu  ti  dak  tertentu  atau  perjanjian  kerja
              waktu tertentu," ujarnya.

              Terkait jumlah besaran, jelas Ida, bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan
              secara  terus  menerus  atau  lebih,  THR  diberikan  dengan  ketentuan  sebesar  1  bulan  upah.
              Sementara bagi pekerja/ buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus,
              tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan masa
              kerja dibagi 12 bulan kemudian dikali 1 bulan upah.

              Adapun  bagi  pekerja/  buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian  yang  telah
              mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah
              yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.

              "Sedangkan bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah
              1  bulan  dihitung  berdasarkan  rata-rata  upah  yang  diterima  tiap  bulan  selama  masa  kerja,"
              terangnya.

              Selanjutnya, kata Ida, dalam SE juga dijelaskan bagi perusahaan yang masih terdampak pandemi
              Covid-19 dan berakibat tidak mampu memberikan THR Keagamaan tahun 2021 sesuai waktu
              yang di tentukan dalam peraturan perundang-undangan,.
              Ia juga meminta, Gubernur dan Bupati/Wali kota agar memberikan solusi dengan mewajibkan
              pengusaha  melakukan  dialog  dengan  pekerja/buruh  untuk  mencapai  kesepakatan  yang
              dilaksanakan secara kekeluargaan dan dengan itikad baik.

              "Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis dan memuat waktu pembayaran THR Keagamaan
              dengan  syarat  paling  lambat  dibayar  sampai  sebelum  Hari  Raya  Keagamaan  tahun  2021
              pekerja/buruh yang bersangkutan," im-buhnya.

              Ida  menurutkan,  kesepakatan  mengenai  waktu pembayaran  THR  keagamaan  tersebut  harus
              dipastikan tidak sampai menghilangkan kewajiban pengusaha untuk membayar THR keagamaan
              tahun  2021  kepada  pekerja/  buruh  dengan  besaran  sesuai  ketentuan  peraturan  perundang-
              undangan.

              "Perusahaan yang melakukan kesepakatan dengan pekerja atau buruh agar melaporkan hasil
              kesepakatan  kepada  dinas  yang  menyelenggarakan  urusan  pemerintahan  di  bidang
              Ketenagakerjaan setempat," katanya.

              "Saaya juga meminta kepada perusahaan agar dapat membuktikan ketidakmampuan untuk mem
              bayar THR Keagamaan tahun 2021 sesuai waktu yang ditentukan berdasarkan laporan keuangan
              internal perusahaan secara transparan," sambungnya.

              Sementara itu, lanjut Ida, dalam rangka mengantisipasi timbulnya keluhan dalam pelaksanaan
              pembayaran  THR  Keagamaan  tahun  2021  dan  pelaksanaan  koordinasi  yang  efektif  antara
              pemerintah pusat dan daerah.

              "Saya meminta Gubernur beserra Bupati/Wali kota untuk menegakkan hukum sesuai kewenan-
              gannya terhadap pelanggaran pemberian THR Keagamaan tahun 2021 dengan memperhatikan
              rekomendasi dari hasil pemeriksaan pengawas ketenagakerjaan," ujarnya.

              Ida juga mengimbau kepada Gubernur dan Bupati/Wali kota untuk membentuk Pos Komando
              Pelaksanaan  Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  Tahun  2021  (Posko  THR)  dengan  tetap
              memperhatikan prosedur/protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.




                                                           34
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40