Page 519 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 519

Presiden KSPI Said Iqbal mengingatkan Ida agar sanksi yang tertuang dalam Surat Edaran (SE)
              Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan Bagi Pekerja
              atau Buruh di Perusahaan betul-betul ditegakkan dan tidak sekedar menjadi formalitas atau lip
              service saja.

              "Kami  minta  pengusaha  mematuhi  SE  Menaker  dan  Menaker  memberikan  tindakan  law
              enforcement,  tindakan  menegakkan  aturan  bila  ada  pengusaha  tidak  mematuhi  aturan  dan
              posko THR tidak hanya menjadi lip service," jelasnya lewat keterangan resmi, Senin (12/4).

              Di kesempatan itu, ia juga meminta pengusaha untuk mematuhi SE terkait, yakni membayarkan
              THR maksimal pada H-7 Lebaran. Sementara, untuk pengusaha yang mengaku tidak mampu
              membayarkan THR, diharuskan menyertakan laporan keuangan selama dua tahun terakhir.

              Dia juga mengapresiasi Ida dalam mengharuskan pengusaha membayarkan THR pada tahun ini,
              tak seperti tahun lalu saat pengusaha diberi kelonggaran mencicil THR.

              Said menilai THR penting dibayarkan kepada karyawan guna meningkatkan daya beli menjelang
              Lebaran.  Imbasnya,  kata  dia,  ekonomi  akan  membaik  dan  berkontribusi  pada  pertumbuhan
              ekonomi.

              "Karena itu, kami meminta seluruh pengusaha untuk mematuhi SE Menaker tersebut," lanjut dia.

              Adapun  sanksi  yang  dimaksud  adalah  pengusaha  yang  terlambat  memberikan  THR  kepada
              pekerja akan dikenakan denda 5 persen dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya
              batas waktu kewajiban pengusaha untuk membayar.

              Namun, denda ini tak menghilangkan kewajiban pengusaha untuk tetap membayar THR kepada
              pekerjanya.

              "Batas waktu yang ditentukan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya," ungkap Ida dalam
              konferensi pers, Senin (12/4).

              Sementara, pengusaha yang tak membayar THR akan dikenakan sanksi administratif berupa
              teguran  tertulis.  Selain  itu,  pemerintah  juga  akan  membatasi  kegiatan  usaha  perusahaan
              tersebut.

              "Penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi dan pembekuan kegiatan usaha,"
              kata Ida.

              Sebagai informasi, Ida mewajibkan seluruh pengusaha untuk membayar THR maksimal H-7 Hari
              Raya Idul Fitri. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang
              pelaksanaan Pemberian THR Tahun 2021 bagi pekerja atau buruh di perusahaan.

              Namun, pemerintah memberikan kelonggaran kepada perusahaan yang tak mampu membayar
              THR h-7 untuk melakukan dialog secara bipartit dengan pekerja. Hasil dialog itu harus dilaporkan
              ke Dinas Ketenagakerjaan sebelum h-7 Hari Raya Idul Fitri.
              Manajemen juga harus menyerahkan laporan keuangan dua tahun terakhir untuk membuktikan
              bahwa keuangan perusahaan sedang tertekan. Nantinya, perusahaan itu diberikan waktu untuk
              membayar THR maksimal h-1 Hari Raya Idul Fitri.

              Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengingatkan pengusaha untuk memberikan THR kepada
              pekerjanya pada lebaran tahun ini meskipun ekonomi masih tertekan virus corona. Pasalnya,
              pemerintah  sudah  memberikan  sederet  stimulus  kepada  pengusaha  swasta  supaya  bisa
              menghadapi tekanan pandemi covid-19.


                                                           518
   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524