Page 563 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 563

Setidaknya, ada empat tuntutan yang disuarakan yaitu, meminta hakim MK untuk membatalkan
              atau  mencabut  Omnibus  Law  UU  Cipta  Kerja  Nomor  11  tahun  2020  khususnya  di  klaster
              ketenagakerjaan.

              Kedua,  berlakukan  Upah  Minimum  Sektoral  Kabupaten  atau  Kota  atau  UMSK  2021.  Ketiga,
              menolak pembayaran THR dicicil. Keempat, meminta dugaan korupsi di BPJS Ketenagakerjaan
              diusut tuntas.

              Aksi tersebut digelar di Mahkamah Konstitusi, kantor gubernur, wali kota atau bupati, dan di
              sekitar lingkungan pabrik atau perusahaan. Dari aksi tersebut aspirasi didengarkan oleh pihak
              terkait.

              Ada perwakilan buruh yang diajak duduk bersama seperti di Cirebon dan Kabupaten Bogor untuk
              membicarakan tuntutan yang disuarakan. Sementara itu di Mahkamah Konstitusi, buruh ditemui
              humas.

              "Ya ditemui oleh Humas hanya menjelaskan tentang jadwal persidangan (Omnibus Law)," kata
              perwakilan buruh yang ikut pertemuan tersebut, Riden Hatam Aziz, saat dihubungi pada Senin
              (12/4).

              Riden memastikan pihaknya tidak berhenti di situ saja. Ia menegaskan buruh akan mengawal
              persidangan dan berharap Omnibus Law dibatalkan.

              "Tindak lanjutnya bakal mengawal sidang tersebut," ujar Riden.
              Sedangkan mengenai permintaan THR tidak dicicil, Riden menjelaskan pihaknya saat ini masih
              menunggu informasi pastinya di berbagai daerah. Sehingga ia belum bisa memastikan apakah
              semua pengusaha bakal mau komitmen membayar THR secara penuh.

              "Sementara belum ada laporan itu. Hanya kalau Kemenaker mengeluarkan SE nya ada klausul
              bisa dicicil ya pengusaha yang nakal akan manfaatkan itu," tutur Riden.

              Seperti diketahui, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menerbitkan surat edaran mengenai
              THR. Dalam surat edaran tersebut, pengusaha wajib membayar penuh THR pekerjanya pada
              tahun ini.

              Ida  menegaskan  poin  inti  dalam  Surat  Edaran  (SE)  nomor  N/6/HK.04/IV/2021  tentang
              Pelaksanaan  Pemberian  THR  Keagamaan  tahun  2021  Bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan,  ini
              adalah perusahaan membayarkan THR penuh dan tepat waktu kepada pekerja.

              "Untuk itu diperlukan komitmen pengusaha untuk membayar THR secara penuh dan tepat waktu
              kepada buruh," katanya dalam konferensi pers pengumuman THR virtual, Senin (12/4).

              Adapun skema pembayaran THR pada tahun ini mengacu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan
              Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  Bagi  Buruh/Pekerja  di
              Perusahaan.
              "THR Paling lambat diberikan tujuh hari sebelum hari raya," kata Ida.


              Bagi perusahaan yang masih terdampak pandemi COVID-19, kata Ida, harus melakukan dialog
              bersama pekerja. Hal ini sifatnya wajib, serta memberikan bukti seperti laporan keuangan dalam
              dua tahun terakhir.






                                                           562
   558   559   560   561   562   563   564   565   566   567   568