Page 274 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 274

penutupan operasional terus berkepanjangan maka akan banyak pekerja yang dirumahkan dan
              jika keadaan semakin berlarut maka akan banyak terjadi lagi PHK.



              WACANA PERPANJANGAN PPKM DARURAT, PENGUSAHA MAL: TAHUN INI LEBIH
              BERAT

              Pemerintah memperkirakan akan memperpanjang pemberlakuan PPKM Darurat. Hal tersebut
              seiring dengan jumlah kasus positif Covid-19 yang terus melonjak.

              Ketua  Umum  Asosiasi  Pengelola  Pusat  Belanja  Indonesia  (APPBI)  Alphonzus  Widjaja
              mengatakan, jika hal itu terjadi, maka tentunya beban pusat perbelanjaan akan menjadi semakin
              berat.

              Alphonzus Widjaja memaparkan, tahun 2021 merupakan kondisi yang lebih berat dari tahun
              2020. Meskipun tahun 2020 yang lalu adalah tahun yang sangat berat namun para pelaku usaha
              masih memiliki dana cadangan.

              "Para pelaku usaha memasuki tahun 2021 tanpa memiliki dana cadangan lagi karena sudah
              terkuras habis selama tahun 2020 yang lalu yang mana digunakan hanya sebatas untuk supaya
              bisa bertahan saja," ujarnya kepada, Rabu (14/7).

              Kemudian, kondisi usaha pada tahun 2021 masih defisit. Ia mengaku, memang benar bahwa
              kondisi usaha sampai dengan semester pertama 2021 adalah lebih baik dibandingkan dengan
              tahun 2020 yang lalu.

              "Namun Pusat Perbelanjaan masih tetap mengalami defisit dikarenakan masih diberlakukannya
              pembatasan jumlah pengunjung dengan kapasitas maksimal 50 persen saja," tuturnya.

              Ia  melanjutkan,  pendapatan  pusat  perbelanjaan  merosot  tajam.  Pusat  Perbelanjaan  harus
              banyak membantu para penyewa untuk memberikan kebijakan dalam hal biaya sewa dan service
              charge dikarenakan mayoritas para penyewa tidak bisa beroperasi selama pemberlakuan PPKM
              Darurat.

              Belum lagi, pusat perbelanjaan masih tetap harus menanggung beban biaya pengeluaran yang
              relatif  tidak  berkurang  meskipun  tidak  beroperasional.  "Pusat  perbelanjaan  harus  tetap
              membayar  berbagai  pungutan  dan  pajak  atau  retribusi  yang  dibebankan  oleh  pemerintah
              meskipun diminta untuk tutup ataupun hanya beroperasi secara sangat terbatas," ungkapnya.

              Hal itu diantaranya, listrik, gas, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak reklame, dan lainya
              seperti royalti, retribusi perijinan dan sebagainya.

              Belum lagi, pemutusan Hubungan Kerja (PHK) jika penutupan operasional terus berkepanjangan
              maka  akan  banyak  pekerja  yang  dirumahkan  dan  jika  keadaan semakin  berlarut  maka  akan
              banyak terjadi lagi PHK.

              "Sektor  usaha  non  formal  mikro  dan  kecil  semakin  terpuruk,  di  sekitar  hampir  semua  Pusat
              Perbelanjaan banyak terdapat usaha non formal seperti tempat kos, warung, parkir, ojek dan
              lainnya yang harus ikut tutup dikarenakan kehilangan pelanggan yaitu para pekerja yang sudah
              tidak ada lagi akibat Pusat Perbelanjaan tutup," pungkasnya.
                                                           273
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279