Page 148 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 AGUSTUS 2021
P. 148

SEJUMLAH UPAYA KEMENAKER TINGKATKAN PERLINDUNGAN BAGI PEKERJA
              PEREMPUAN
              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengaku, pihaknya telah melakukan sejumlah
              upaya untuk meningkatkan pelindungan bagi pekerja perempuan . Khususnya, kata dia, terkait
              pencegahan kekerasan, pelecehan seksual, dan diskriminasi di tempat kerja.

              "Upaya  tersebut  di  antaranya  bimbingan  teknis  kepada  manajemen  perusahaan  dan  serikat
              pekerja  atau  serikat  buruh  (SP/SB),"  ujar  Ida  dalam  keterangan  tertulis  yang  diterima
              Kompas.com, Kamis (5/8/2021).

              Kemudian, lanjut dia, membangun komitmen perusahaan melalui peraturan perusahaan (PP)
              dan  perjanjian  kerja  bersama  (PKB),  serta  integrasi  dan  koordinasi  lintas  sektoral  dalam
              penegakan hukum.

              Pernyataan  tersebut  Ida  sampaikan  dalam  dialog  dengan  pengurus  SP/SB  perempuan  se-
              Kabupaten Gresik bertemakan "Menghapuskan Pelecehan Seksual dan Diskriminasi di Tempat
              Kerja" di PT Smelting Gresik, Jawa Timur (Jatim), Kamis.

              Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) juga akan
              menyediakan aturan lebih spesifik terhadap penghapusan kekerasan dan pelecehan di tempat
              kerja, serta perbaikan regulasi di bidang ketenagakerjaan, salah satunya melalui Undang-Undang
              (UU) Cipta Kerja (Ciptaker).

              "Kendati  demikian,  sinergitas,  komitmen,  dan  upaya  konkret  tidak  hanya  dari  pemerintah
              melainkan juga dari stakeholder terkait," kata Ida.

              Oleh  karenanya,  ia  meminta  seluruh  stakeholder  ketenagakerjaan  untuk  meningkatkan
              pelindungan bagi pekerja perempuan dari tindak kekerasan, pelecehan seksual, dan diskriminasi
              di tempat kerja.

              Sebab,  hal  tersebut  dapat  berpengaruh  terhadap  produktivitas  kerja  dan  berdampak  pada
              kelangsungan usaha.

              "Untuk itu, perlu adanya kepedulian bersama demi mewujudkan kenyamanan bekerja melalui
              pencegahan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja," imbuh Ida.

              Menurut dia, perempuan mengalami paling rentan mengalami kesenjangan, diskriminasi, dan
              kekerasan, termasuk di dalamnya pekerja perempuan sebagai kelompok marjinal.

              Terlebih,  dalam  situasi  krisis  seperti  masa  pandemi  Covid-19,  pekerja  perempuan  juga
              mengalami beban tambahan.

              "Beban  tambahan  yang  dimaksud,  pertama,  penurunan  atau  hilangnya  pendapatan.  Kedua,
              budaya pengurusan rumah tangga masih dibebankan kepada perempuan," ujar Ida.

              Ketiga,  sebut  dia,  pengurusan  rumah  tangga  yang  masih  dibebankan  kepada  perempuan
              tersebut ikut menambah beban pekerja perempuan saat work from home (WFH).


              Adapun beban tambahan keempat adalah kegiatan school from home (SFH) yang juga memberi
              tugas kepada perempuan untuk mendampingi anak-anak saat belajar di rumah.

              Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut turut hadir Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan
              Pengawasan  Ketenagakerjaan  (Binwasnaker)  dan  Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  (K3)
              Haiyani Rumondang, Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial (PHI), serta Jaminan Sosial Tenaga
              Kerja  (Jamsos)  Indah  Anggoro  Putri,  Bupati  Gresik  Fandi  Akhmad  Yani  beserta  jajaran  dan
              Presiden Direktur PT Smelting.
                                                           147
   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153