Page 28 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 AGUSTUS 2021
P. 28

Namun, PKWT juga sudah masuk di jenjang kerja atas yang membutuhkan skil tinggi, seperti
              konsultan tapi perekrutan PKWT pekerja dengan skil tinggi belum diatur pemerintah.
              Sementara  itu,  Wakil  Dekan  Akademik  SBM  ITB,  Prof  Aurik  Gustomo  memaparkan  tentang
              penerapan gig economy.

              Gig  ekonomi  merupakan  sebuah  tren  ekonomi  tenaga  kerja  di  mana  perusahaan  cenderung
              merekrut tenaga kerja lepas (freelancer).

              Menurut  dia,  perusahaan  berbasis  layanan  digital  bisnis  yang  pekerjaannya  berbasis  hasil
              menerapkan  PKWT,  seperti  ojek  online.  Sementara  pekerja  dengan  skil  tinggi  seperti
              programmer, website designer, dan konsultan bisnis.

              Menurut Aurik, gig ekonomi didorong oleh aplikasi digital yang semakin berkembang dan cirinya
              ialah kontrak jangka pendek dan tidak permanen, pekerjaan sampingan bagi sebagian orang,
              dan fleksibilitas atau eksploitasi.

              Sisi  positif  dari  gig  ekonomi  yakni  menawarkan  otonomi  dan  fleksibilitas  dalam  bekerja,
              meningkatkan partisipasi pekerja dan mengurangi pengangguran.

              Selain itu, semakin banyak pilihan jasa pekerjaan yang ditawarkan sehingga mendorong inovasi
              dan kompetisi.

              "Ini hal yang lumrah, analogi di monopoli kita tidak bisa menawar harga dan lain, maka di gig
              economy  perusahaan  dan  individu  bisa  punya  pilihan,  memiliki  daya  tawar  yang  tinggi.
              Perusahaan juga dapat memilih kandidat yang baik," kata Aurik.

              Berdasarkan  survei  Mckinsey  2016,  sebanyak  162  juta  atau  20  persen  sampai  30  persen
              masyarakat Eropa dan Amerika pernah terlibat gig economi.

              Intuit report 2020 mengestimasi 80 persen perusahaan besar di AS akan meningkatkan rasio
              pekerja gig di perusahaan mereka dalam beberapa tahun ke depan.
              Tantangan  Meski  demikian,  implementasi  gig  ekonomi  memiliki  sejumlah  tantangan  seperti
              hilangnya  jenjang  karir  atau  paling  tidak  jenjang  karir  menjadi  lebih  fleksibel,  budaya
              pembelarajan yang menurun karena pekerjaa merasa program pembelajaran yang diarahkan
              oleh perusahaan tidak lagi relevan) hingga hubungan pekerjaan menjadi semakin transaksional.
              Selain itu, berkurangnya komitmen jangka panjang antara perusahaan dan pkerja, termasuk
              diantaranya  ikatan  kekeluargaan  dan  rasa  saling  percaya,  perlunya  transformasi  maanjemen
              pengetahuan, dan hilangnya kompetensi inti.

              "Tanpa adanya manajemen portfolio talenta yang baik, dalam jangka panjang perusahaan dapat
              kehilangan  core  comptecy  karena  terlalu  banyak  pekerjaan  yang  di  outsourchingkan  kepada
              pekerja gig," kata Aurik.

              Dikatakan Aurik, sistem kerja perekrutan dosen di perguruan tinggi masih banyak menggunakan
              PKWT.


              Universitas ingin menumbuhkan dirinya, namun terbatas keuangannya.
              Kelebihannya,  peluang  dosen-dosen  untuk  mengembangkan  dirinya  namun,  dosen
              kekurangannya dosen tidak dapat berkarir dalam jabatan fungsional seperti asisten guru besar,
              guru besar.

              "Keuntungan bagi dosen tersebut dapat mengembangkan dirinya dengan mengajar di berbagai
              universitas dengan berbagai bidang yang diminati," kata Aurik.

                                                           27
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33