Page 315 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 AGUSTUS 2021
P. 315
Menurut Yanti, pabrik besar yang telah mempunyai lisensi atau hak untuk melakukan produksi
juga mengalami hal serupa. Perusahaan atau pabrik besar itu biasanya mendapat pesanan
langsung dari buyer atau pemilik brand.
Namun, pada saat pertama kali pandemi Covid-19 menghajar Tanah Air, sejumlah jalur
transportasi, baik laut maupun udara ditutup. Imbasnya, pabrik besar tersebut tidak bisa
mengimpor bahan baku untuk melakukan produksi.
Semula, beberapa pabrik mengambil keputusan untuk merumahkan para karyawan. Ketika tidak
bisa melakukan ekspor barang, baru lah hantu PHK bergentayangan di pabrik dan menyasar
para buruh.
Salah satu contoh yang disebutkan Yanti adalah sebuah pabrik sepatu yang berada di kawasan
Tangerang, Banten -- yang juga merupakan basis anggota GSBI. Pada awal bulan April sudah
melakukan dua tahapan PHK.
Pertama, pabrik melakukan PHK terhadap 500 buruh yang masih menjalani masa percobaan
selama tiga bulan. Pada tahap kedua, jumlahnya lebih gila, mencapai 4899 buruh yang terkena
kebijakan PHK.
"Itu sekitar 500 pekerja, tapi sasaran yang di PHK itu buruh yang masih menjalani masa
percobaan tiga bulan. Pada tahap kedua, sebanyak 4899 karyawan," ujar Yanti.
Gelombang PHK rupanya menyasar anggota GSBI lainnya yang tersebar di beberapa daerah.
Yanti merinci, pabrik-pabrik tersebut berada di kawasan Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang,
Karawang, Sukabumi, Solo Raya hingga di DIY Yogyakarta.
"Iya dong, sebagian besar itu anggota GSBI. Tentu saja kami juga kena dampak pengurangan
anggota dari phk perusahaan. Itu untuk yang sektor tekstil, garmen, dan sepatu. Kerena paling
rentan di sektor itu," beber Yanti.
Hal serupa juga terjadi pada pabrik-pabrik yang bergerak di sektor makanan atau minuman.
Meski tidak sebesar sektor tekstil dan garmen, gelombang PHK juga terjadi karena adanya
penurunan penjualan.
"Di pabrik Coca-Cola, dia juga melakukan PHK karena ada pengurangan penjualan. Jadi ada
pengurangan di bagian distributor. Kemudian di Big Cola. Itu di kawasan Bekasi," ungkap Yanti.
Sektor yang terkena imbas serupa adalah pabrik yang bergerak di ranah elektronik dan otomotif.
Di kawasan industri Bekasi misalnya, meski tidak melakukan PHK, pabrik otomotif "merumahkan"
para buruh yang bekerja karena produksi tidak bisa berjalan sepenuhnya.
"Kemudian di sektor otomotif, pabrik melakukan merumahkan karyawan karena produksi
otomotif itu ada di Bekasi, yakni spare part mobil seperti Toyota, Mitshubisi mungkin karena
pengaruh pandemi penjualan menurun, tapi tidak sampai PHK hanya meliburkan atau
merumahkan karyawan karena produksi tidak bisa jalan sepenuhnya, hanya sebagian," ujar
Yanti.
Atas fakta itu, Yanti menyebut, kebijakan pabrik terkait PHK atau merumahkan para buruh
modelnya berbeda-beda. Ada pabrik yang membayar upah secara penuh selama buruh
dirumahkan. Di sisi lain, ada pula pabrik yang hanya membayar separuh upah kerja.
"Itu tergantung pabrik termasuk serikat buruh yang kuat atau tidak untuk melakukan
negosiasi.Di tigaraksa juga ada di bagian pewarnaan kain, sudah meliburkan sudah dari sebelum
puasa, diliburkan selama tiga bulan dan itu ada kesepakatan dari serikat dan managemen pabrik
hanya dibayar 50 persen upah saja," imbuh dia.
314

