Page 278 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 JULI 2021
P. 278

aneh.  Dia  langsung  dimasukkan  ke  mobil  van  yang  dipenuhi  pekerja  Indonesia.  Selain  itu,
              sekelompok pria asal Indonesia memintanya mengisi dokumen aplikasi yang kelak diketahui visa
              pengungsi.

              Mereka juga ternyata tidak memberikan pekerjaan dengan gaji sebesar 160 ribu yen (Rp20,9
              juta) per bulan seperti yang dijanjikan. Indra malah dipekerjakan di pabrik pengepakan stroberi,
              dengan gaji 'minus' 60 ribu yen untuk bulan pertama.

              Biaya sewa kamar apartemen untuk enam pekerja yang disediakan juga cukup mahal, masing-
              masing dikenakan 40 ribu yen. Harga tersebut jauh lebih mahal daripada standar setempat.

              Indra tak bertahan lama di tempat tersebut. Setelah meminjam 10 ribu yen (Rp1,3 juta), ia diam-
              diam  pergi  ke  Kedutaan  Besar  Republik  Indonesia  (KBRI)  di  Tokyo  agar  mendapatkan
              perlindungan sekaligus berharap bisa tinggal di kota tersebut. Dia membawa koper. Akan tetapi
              harapannya segera hancur. Dia mengatakan pihak KBRI tidak bisa banyak membantu karena ia
              sudah mengajukan visa pengungsi.
              Katanya,  memang  ada  kesempatan  50%  untuk  bisa  mendapatkan  visa  kerja,  tapi  50%  lagi
              peluang dideportasi.

              Selama di kedai yang ramai ini, Indra bercerita sambil meneteskan air mata. Dia mengatakan
              seorang staf KBRI bertanya apakah dia mengarang cerita alias berbohong. “Mereka egois. Saya
              sakit hati.” Indra bilang dia tidak suka orang Indonesia dibandingkan dengan warga Jepang.

              Broker yang membuatnya terjebak dalam situasi ini juga mantan jishusei atau pemagang yang
              berasal dari Indonesia. Secara resmi, sistem pemagangan ditujukan bagi peserta asing untuk
              memperoleh  keterampilan  dari  industri  Jepang  agar  dapat  digunakan  untuk  pengembangan
              industri di negara asal.

              Indra  akhirnya  memutuskan  untuk  terus  bekerja  serabutan  dengan  status  pemohon  visa
              pengungsi. Sejak itu ia berpindah-pindah kota dan berganti-ganti pekerjaan, mulai dari tenaga
              penjual karage (ayam goreng Jepang) hingga buruh pabrik plastik.

              Namun, selama pandemi yang berkepanjangan ini, Indra kehilangan status hukumnya.

              Kini dia bekerja di pabrik manufaktur di salah satu kota di Prefektur Aichi—yang dikenal sebagai
              basis merek otomotif Toyota. Barang-barang yang produksi digunakan untuk mobil dan perahu.
              Dengan lebih dari 7.000 WNI, prefektur ini menjadi tempat sebagian besar orang Indonesia
              tinggal, bahkan melampaui populasi WNI di ibu kota Jepang, Tokyo.

              Karena pandemi Covid-19, lima teman Indra asal Indonesia di-kubi atau di-PHK. Mereka tidak
              punya uang bahkan untuk membeli makanan. Akhirnya Indra mengizinkan mereka semua untuk
              menginap di apartemennya. Sebelumnya, mereka bekerja paruh waktu di prefektur-prefektur di
              dekat Aichi.

              Apa yang dialami Indra sama sekali bukan kasus yang luar biasa, dalam arti dialami pula oleh
              banyak orang lain.

              Seorang ahli tentang Indonesia, guru besar di Nagoya Gakuin University yang membantu orang-
              orang Indonesia yang membutuhkan, Saeki Natsuko, membuka grup obrolan LINE. Dari sana,
              pada  puncak  pandemi,  ia  bisa  menerima  150  pesan  konsultasi  dan  keluhan  setiap  hari.  Ia
              menemukan  banyak  dari  mereka  yang  tidak  tahu  hak  dan  kewajiban  karena  tak  menguasai
              bahasa Jepang. Seperti Indra, para tenaga kerja yang kerap datang dari pedesaan Indonesia
              juga  sering  disuruh  untuk  mengisi  surat  pengajuan  visa  pengungsi  tanpa  tahu  apa  isinya,
              katanya.


                                                           277
   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283