Page 13 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MEI 2021
P. 13

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan, jumlah pengangguran terbuka
              Indonesia mengalami penurunan sekitar 950 ribu orang pada Februari 2021. Foto/Dok  JAKARTA
              - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan, jumlah pengangguran terbuka
              Indonesia mengalami penurunan sekitar 950 ribu orang pada Februari 2021.

              "Pengangguran  terbuka  kita  dibandingkan  Agustus  2020  menurun,  Agustus  akibat  pandemi
              pengangguran  kita  9,7  juta.  Alhamdulillah  dengan  segala  cara  kita  bisa  menurunkan
              pengangguran kita berkurang 950 ribu," kata Menaker Ida.

              Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk usia kerja Indonesia pada Februari 2021
              berjumlah  205,36  juta.  Dari  jumlah  tersebut,  sebanyak  139,81  juta  atau  68,08%  adalah
              angkatan kerja.

              Dengan rincian 131,06 juta atau 93,74% berstatus bekerja dan 8,75 juta atau 6,26% berstatus
              penganggur  terbuka.  Sebanyak  59,62%  berstatus  pekerja  informal  dan  sebagian  besar
              berpendidikan  maksimal  SD  ke  bawah  (40,38%).  Namun  demikian,  tingkat  pengangguran
              tertinggi justru berpendidikan SMK sebanyak 11,45%, diikuti SMA (8,55%), universitas (6,97%)
              dan diploma (6,61%). Sementara tingkat pengangguran berpendidikan SMP hanya 5,87% dan
              maksimal SD hanya 3,13%.

              Kemnaker, kata Ida, telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi ketidakcocokan antara
              kebutuhan industri dan kemampuan pekerja, yaitu transformasi balai latihan kerja (BLK) dan link
              and match ketenagakerjaan.

              Dua Kebijakan Kemnaker untuk mengatasi mismatch ketenagakerjaan tahun 2020-2024 yaitu
              yang pertama transformasi Balai Latihan Kerja dengan arah kebijakan mengubah secara total
              BLK  sebagai  Balai  Pelatihan  Vokasi  yang  menjadi  pusat  pengembangan  kompetensi  dan
              produktivitas tenaga kerja yang berdaya saing di tingkat nasional dan intenasional.

              "Transformasi  BLK  dilakukan  dengan  reformasi  kelembagaan,  sampai  reorientasi  SDM  untuk
              meningkatkan kualitas layanan BLK. Kita optimalkan potensi kapasitas latih UPTP, UPTD, dan
              BLK Komunitas kepada 483.991 orang per tahun, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
              kebutuhan pasar kerja dengan sebaran di seluruh Indonesia," terangnya.

              Kebijakan yang kedua yaitu Link and Match Ketenagakerjaan dengan arah kebijakan membangun
              integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan tenaga kerja dalam sebuah bisnis proses yang
              utuh dan efektif untuk mempertemukan pencari kerja dengan permintaan pasar kerja.

              "Kita terapkan strategi mengintegrasikan sistem pelatihan, sertifikasi, dan penempatan, yaitu
              pengembangan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DuDi)," kata Ida.

              Dalam  rangka  mendukung  sertifikasi  kompetensi  lulusan  pendididkan  dan  pelatihan  vokasi,
              terdapat pula 1.925 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah mendapatkan lisensi dari Badan
              Nasional  Sertifikasi  Profesi  (BNSP)  yang  siap  melaksanakan  sertifikasi  bagi  tenaga  kerja  di
              seluruh Indonesia.

              Hal itu disampaikan Menaker saat bersama Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia
              (BP2MI), Benny Rhamdani menggelar Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IX DPR RI di Komplek
              Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (24/5/2021).
              Raker yang dipimpin Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Esthelita Runtuwene ini membahas evaluasi
              link and match Balai Latihan Kerja (BLK) sesuai dengan kebutuhan daerah, Pelindungan Jaminan
              Sosial bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), penanganan kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA)
              dan strategi kesiapan dan penanganan kembalinya PMI dari negara penempatan, khususnya
              pada  masa  Pandemi  Covid-19  di  daerah  perbatasan  dan  basis  Pekerja  Migran  Indonesia
              (PMI).(akr).
                                                           12
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18