Page 364 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 364

menjelaskan, pemerintah tengah menyelesaikan peraturan turunan dari UU Nomor 18 Tahun
              2017  tentang  Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia.  Di  antaranya,  rancangan  peraturan
              pemerintah tentang penempatan dan pelindungan pelaut awak kapal dan pelaut perikanan yang
              saat ini posisinya berada di Kementerian Sekretariat Negara.



              KETERLIBATAN MULTIPIHAK LINDUNGI PEKERJA PERIKANAN INDONESIA

              Butuh  keterlibatan  multipihak  dalam  melindungi  pekerja  perikanan  Indonesia.  Pemerintah
              melalui  UU  Nomor  18  tahun  2017  tentang  Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia,  dan
              turunannya,  yang  kini  dalam  tahap  penyelesaian,  akan  berdampak  signifikan  jika  didukung
              berbagai pihak, termasuk swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

              Hal  tersebut  mengemuka  pada  webinar  "Mempertanyakan  Komitmen  Multi-Pihak  dalam
              Melindungi  ABK  Indonesia  di  Kapal  Ikan  Asing  "  pada  Rabu-Kamis  (14-15  April  2021)  yang
              digagas oleh Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI).

              Hasil penelitian yang dilakukan oleh IOJI menunjukkan, saat ini masih terjadi praktik-praktik
              eksploitasi  terhadap  ABK  Indonesia  di  kapal  ikan  asing.  Pemerintah,  akademisi,  kelompok
              masyarakat sipil, swasta, dan masyarakat, juga ABK migran diharapkan mampu bersinergi untuk
              menjawab masalah pelik tersebut.

              IOJI menyoroti 5 akar permasalahan lemahnya pelindungan ABK Indonesia di kapal asing. Di
              antaranya,  masih  belum  ada  seperangkat  peraturan  pelaksanaan  UU  Nomor  18  tahun  2017
              tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk menjabarkan bentuk-bentuk pelindungan,
              duplikasi  kewenangan  dalam  proses  rekruitmen  dan  penempatan,  tidak  ada  basis  data  ABK
              terintegrasi, dan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggar Hak Asasi
              Manusia  dan  pelaku  kejahatan  Tindak  Pidana  Perdagangan  Orang  (TPPO),  serta  masih
              rendahnya kesadaran dan pengetahuan ABK mengenai hak-hak dasar.
              "Kami menyimpulkan masih terjadi praktik-praktik ilegal dan pelanggaran HAM dari sebelum,
              selama,  dan  setelah  ABK  bekerja.  Menjawab  permasalahan  yang  terjadi,  butuh  keterlibatan
              multipihak; pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat, bahkan kelompok yang terdampak,"
              ujar CEO Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) Mas Achmad Santosa dalam sambutannya.
              Sementara  itu,  dalam  laporan  Global  Estimates  of  Modern  Slavery  2017,  Organisasi  Buruh
              Internasional (ILO) mencatat, secara global terdapat sekitar 2 juta pekerja di sektor perikanan
              dan pertanian menjadi korban perbudakan modern.

              Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 1,2 juta orang Indonesia
              berprofesi  sebagai  ABK  migran  di  kapal  niaga  dan  kapal  ikan  asing.  Mereka  berpotensi
              berkontribusi pada penerimaan devisa negara hingga Rp 151,2 triliun. Miris tentunya, mereka
              yang memiliki peran besar terhadap devisa negara, masih mengalami pelanggaran HAM.
              Direktur  Jenderal  Protokol  dan  Konsuler  Kementerian  Luar  Negeri  Andy  Rachmianto
              memaparkan,  ada  1.450  kasus  pelanggaran  hukum  di  kapal  ikan  asing  pada  2020.  Angka
              tersebut meningkat drastis jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, yaitu 1.079 kasus pada
              2018 dan 1.095 kasus pada 2019. Mayoritas kasus merupakan kasus repatriasi dan kasus terkait
              gaji yang tidak dibayarkan.

              Direktur Dukungan Penegakan Hukum dan Akses Terhadap Keadilan IOJI Fadilla Octaviani dalam
              penelitiannya mengidentifikasi 10 permasalahan struktural terkait pelanggaran HAM ABK. Salah
              satunya karena relasi kuasa yang tidak seimbang antara perusahaan perekrut dan ABK yang
              menyebabkan pekerja sudah tidak memiliki posisi tawar dari sejak tahap perekrutan.


                                                           363
   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369