Page 396 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 396

Ketua  DPD  RI,  AA  LaNyalla  Mahmud  Mattalitti  mendukung  sepenuhnya  integrasi  BPJS
              Ketenagakerjaan dengan JKP bagi pekerja yang terkena PHK. "Saya mendukung penuh program
              ini  sebagai  jaminan  dari  kehadiran  pemerintah  dalam  setiap  persoalan  yang  dihadapi  warga
              negaranya, dalam hal ini pekerja yang tengah mendapat musibah PHK," kata LaNyalla di sela
              agenda reses, Jumat (16/4/2021).

              Ketua Dewan Kehormatan Kadin Jawa Timur itu menilai perlu integrasi data antara BPJS dengan
              JKP agar program ini dapat berjalan tepat sasaran. "Karena program ini akan dilihat berdasarkan
              keikutsertaan pekerja pada BPJS, maka sebaiknya diitegrasikan datanya agar tepat sasaran,"
              ujar LaNyalla.

              Di sisi lain, mantan Ketua Umum PSSI itu meminta pemerintah menggencarkan sosialisasi kepada
              seluruh lapisan masyarakat agar hal ini dapat diketahui dengan luas. "Para penerima manfaat
              program  ini  juga  harus  aktif  mengakses  informasi.  Sehingga  nantinya  para  pekerja  yang
              merupakan JKP dapat berwirausaha atau melakukan kegiatan ekonomi lainnya," tutur alumnus
              Universitas Brawijaya Malang ini.

              Sebagaimana  diketahui,  program  JKP  merupakan  program  baru  yang  diatur  dalam  Undang-
              Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Program tersebut akan diatur dalam
              Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai aturan turunan.

              JKP ini akan menjadi tanggungan pemerintah membayarkan iuran ke BPJS Ketenagakerjaan.
              Nantinya peserta akan mendapatkan manfaat selama 6 bulan jika terkena PHK. Besaran manfaat
              yang akan diterima sebesar 45 persen dari upah selama 3 bulan, dan 25 persen pada bulan
              berikutnya.

              Untuk implementasi JKP tersebut, pemerintah telah mengalokasikan modal awal sebesar Rp6
              triliun di APBN 2021 ini. kbc 10.










































                                                           395
   391   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401