Page 398 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 398

Kepala Disnakertrans Kaltara Armin Mustafa mengatakan, aturan yang dikeluarkan Pemerintah
              Pusat sesuai kondisi saat ini dan telah melalui pengkajian matang. Sehingga, tidak ada alasan
              bagi perusahaan untuk tidak mematuhi aturan yang berlaku.

              “Pertimbangannya karena pandemi para pekerja tetap bekerja. Apalagi protokol kesehatan tetap
              diatur dan dilaksanakan. Jadi tidak boleh dicicil THR pekerja,” jelas Armin, Kamis (25/4).

              Pembayaran  THR  dilakukan  paling  lambat  H-7  lebaran  Idulfitri.  THR  tersebut  merupakan
              pendapatan yang wajib dibayarkan di luar upah pokok. Untuk ketentuan besaran THR minimal
              bagi karyawan, yakni sudah bekerja selama 12 bulan secara penuh dan dibayarkan satu kali gaji.

              Bagi karyawan yang belum bekerja penuh selama 12 bulan, besaran THR ditentukan dengan
              proporsional. “Itu sudah sesuai aturan yang ada. Jadi hitung-hitungannya sudah ada,” imbuh
              Armin.

              Bahkan,  ada  kebijakan dari  pusat  terkait  perusahaan  yang  tidak  mampu  membayarkan  THR
              karyawannya.  Meski  tidak  diperbolehkan  THR  dicicil,  tapi  Pemerintah  Pusat  memberikan
              keringanan. Pengusaha yang belum mampu membayarkan THR secara penuh, harus lakukan
              musyawarah bersama perwakilan pemerintah, karyawan dan serikat pekerja.

              Hasil  musyawarah,  tidak  menghilangkan  kewajiban  pengusaha  untuk  membayar  THR  2021
              kepada  pekerja  atau  buruh.  Perusahaan  diminta  tetap  membayarkan  THR  sebelum  2021
              berakhir. “Jika tak mampu, bisa dibayarkan hingga Desember 2021. Wajib dibayarkan dan tidak
              boleh lewat dari 2021. Harus ada kesepakatan antara perusahaan dan pekerja,” ungkapnya.

              Menurut dia, masih banyak perusahaan yang belum normal secara keuangannya. Hal itu tidak
              dapat dipungkiri. “Kita tidak bisa menutup mata. Tidak semua perusahaan keuangannya baik,”
              ujarnya.

              Pemprov  Kaltara  akan  mengeluarkan  edaran  Gubernur  Kaltara,  nantinya  menjadi  aturan  di
              Kaltara. “Biasanya terbanyak pekerja yang melaporkan. Perusahaan yang sudah membayarkan
              THR diminta melaporkan. Jika kemudian hari ada masalah, kami ada bukti,” tutur Armin.

              Sementara untuk pembayaran THR bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemprov Kaltara,
              Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kaltara telah menganggarkan Rp 30 miliar.

              Namun,  masih  menunggu  Peraturan  Menteri  Keuangan  (PMK)  terkait  THR  tersebut.  Sebab,
              penyalurannya mengikuti aturan dari pusat. Ada perbedaan setiap tahunnya. Misalnya tahun
              lalu, sesuai aturan dari pusat untuk eselon I tidak menerima THR. Lalu, THR yang diterima ASN
              hanya sebulan gaji dan tidak termasuk Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP).

              “Biasanya turun PMK. Apakah tetap dibayarkan sebulan gaji atau ikut TPP. Ini yang masih kita
              tunggu sampai saat ini. Tahun lalu gaji saja. Di 2019 lalu, gaji ditambah TPP,” terang Dikatakan
              Plt Kepala BKAD Kaltara Denny Harianto, Selasa (13/4) lalu.

              Berkaitan dengan Pegawai Tidak Tetap (PTT), kata Denny, tidak mendapatkan THR. Artinya,
              BKAD tidak menganggarkan untuk PTT. Akan tetapi, kebijakan THR itu diberikan kepada masing-
              masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD). (fai/uno)












                                                           397
   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403