Page 461 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 461

memperbolehkan perusahaan mencicil atau menunda pembayaran tunjangan hari raya (THR).
              Ia mengatakan bahwa kebijakan tersebut pernah dikeluarkan pada tahun 2020. Alhasil, banyak
              perusahaan memilih opsi tersebut. Sementara kondisi saat ini sudah berbeda dari tahun lalu.
              Menurut Roy, pandemi Covid-19 selalu dijadikan alasan oleh pemerintah untuk membuat aturan-
              aturan yang sangat merugikan kaum buruh

              Menanggapi  hal  ini,  Menteri  Ketenagakerjaan  RI  Ida  Fauziyah  mengatakan,  pihaknya  masih
              melakukan kajian bersama dengan pihak terkait. Menurutnya, masih ada banyak waktu sebelum
              memutuskan skema THR yang tepat di tahun ini. Pihaknya pun akan melakukan pembahasan
              secepatnya bersama tripartit dan Dewan Pengupahan

              Carut marut marut mengenai sistem upah dan tunjangan tenaga kerja khususnya para buruh (
              THR ) terjadi bukan kali ini saja. Bahkan masih kerap terjadi disetiap tahunnya. Akibatnya para
              buruh merasa diperlakukan sangat tidak adil dalam persolaan ini, dimana hak-hak mereka sering
              kali diabaikan dan tidak diperhatikan. Sehingga sangat Wajar jika kemudian para pekerja (buruh)
              mempertanyakan mengapa negeri ini melonggarkan perusahaan beroperasi normal akan tetapi
              dalam pembayaran tunjangan ( THR ) justru dicicil. Dan hal inilah yang membuat para pekerja
              bertambah ilfil.

              Padahal para pekerja sangat berharap penuh atas pembayaran THR mereka guna tercukupinya
              kebutuhan selama bulan puasa yang mana semakin hari harga -harga sembako kian melambung
              tinggi. Sungguh sangat memprihatinkan buruh dipaksa bekerja penuh tapi hak-haknya justru
              terbelenggu.

              Begitulah ketika kita hidup didalam sistem kapitalis siapa yang memiliki modal besar dialah yang
              berkuasa memberikan kebijakan dan aturan yang justru memberatkan nasib para kaum buruh.
              Hal  ini  dikarenakan  Cara  pandang  dan  kiblat  kapitalis  hanya  berdasarkan  untung  dan  rugi
              semata, sehingga hanya dengan modal yang sedikit yang terpenting mampu mendulang pundi
              pundi materi yang masuk kekantong setiap hari.

              Akibatnya  buruh  hanya  dijadikan  sebagai  "mesin  pencetak"  uang  dalam  sektor  produksi.
              Sehingga nasib mereka akan terus diekspoitasi layaknya sapi perah yang harus terus bekerja
              meskipun gaji dan upah yang diterima jauh dari kata sejahtera. Ini membuktikan bahwa negara
              hanya berpihak dan memberikan perhatian istimewanya khusus bagi para pengusaha, sementara
              hak-hak buruh hanya dianggap sampah tanpa makna.

              Jika didalam sistem kapitalis hak-hak buruh justru terbelenggu hal ini tentu berbeda dalam sistem
              Islam, dimana sistem Islam menjamin kebutuhan rakyatnya disegala aspek kehidupan. Termasuk
              dalam  menjamin  kesejahteraan  para  pekerja  (buruh).  Maka  kini  sudah  saatnya  kita  kembali
              kepada sistem pemerintahan Islam dalam menyelesaikan masalah upah buruh. Sebab sudah
              terbukti  bahwa  Islam  mampu  menyelesaikan  segala  permasalahan  baik  itu  persoalan  buruh
              terkait kontrak kerja dan pengusaha maupun transaksi ijarah.
              Islam membolehkan seseorang untuk mengontrak tenaga atau jasa para pekerja atau buruh
              yang bekerja untuk dirinya. Dalam (Q.S Az-Zukhuf 43:32) Allah SWT berfirman "Apakah mereka
              membagi  bagi  Rahmat  Tuhanmu?  Kamilah  yang  menentukan  diantara  mereka  penghidupan
              mereka dalam kehidupan didunia serta meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain
              beberapa derajat, agar sebagian mereka memperkerjakan sebagian yang lain".

              Dalam  transaksi  ijarah  harus  ada  kejelasan,  tanpa  ada  penyebutan  waktu  pada  beberapa
              pekerjaan bisa menyebabkan ketidakjelasan. Jika pekerjaan tersebut sudah tidak jelas maka
              hukumnya tidak sah. Apabila transaksi ijarah dilakukan untuk jangka waktu satu bulan atau satu
              tahun  maka tidak  boleh  salah  satu  dari  kedua belah  pihak  membatalkannya,  kecuali  apabila
              waktunya telah habis.


                                                           460
   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465   466