Page 358 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 358
Sementara itu jumlah pekerja anak berusia 5 hingga 17 tahun meningkat sebanyak 6,5 juta
menjadi 79 juta sejak 2016. Mereka merupaan pekerja anak dengan pekerjaan berbahaya yaitu
pekerjaan yang mungkin membahayakan kesehatan, keselamatan hingga moral.
"Perlindungan sosial yang inklusif akan memungkinkan keluarga untuk menyekolahkan anak-
anak mereka bahkan saat menghadapi kesulitan ekonomi. Peningkatan investasi dalam
pembangunan pedesaan dan pekerjaan yang layak di bidang pertanian sangat penting. Kita
berada pada momen penting dan sangat tergantung pada bagaimana kita merespons. Ini
merupakan waktu untuk memperbarui komitmen dan energi, serta memutus siklus kemiskinan
dan pekerja anak," ujarnya.
Di sub-Sahara Afrika, pertumbuhan penduduk, krisis berulang, kemiskinan ekstrem dan langkah-
langkah perlindungan sosial yang tidak memadai telah menyebabkan tambahan 16,6 juta anak
terpaksa menjadi pekerja anak selama empat tahun terakhir. Ryder menegaskan bahwa laporan
tersebut mengingatkan adanya tambahan sembilan juta anak secara global berisiko menjadi
pekerja anak pada akhir tahun 2022 sebagai akibat dari pandemi.
"Sebuah model simulasi menunjukkan jumlah ini dapat meningkat menjadi 46 juta jika mereka
tidak memiliki akses terhadap perlindungan sosial," ujarnya.
Kondisi guncangan ekonomi dan penutupan sekolah akibat COVID-19 juga membuat anak-anak
yang sudah menjadi pekerja anak mungkin akan bekerja lebih lama atau akan bekerja dalam
kondisi yang semakin buruk. Di sisi lain ada lebih banyak lagi yang mungkin terpaksa harus
menjadi pekerja anak dalam kondisi yang lebih buruk sebagai akibat hilangnya pekerjaan dan
pendapatan dari keluarga.
Adapun temuan kunci lainnya dalam laporan ini yaitu: Sektor pertanian menyumbang 70 persen
anak menjadi pekerja anak (112 juta) diikuti oleh 20 persen di bidang jasa (31,4 juta) dan 10
persen di industri (16,5 juta).
Hampir 28 persen anak berusia 5 hingga 11 tahun dan 35 persen anak, berusia 12 hingga 14
tahun yang menjadi pekerja anak, tidak bersekolah.
Pekerja anak lebih banyak menimpa anak laki-laki dibandingkan anak perempuan pada setiap
usia. Ketika pekerjaan rumah tangga yang dilakukan setidaknya 21 jam per minggu
diperhitungkan, kesenjangan gender dalam pekerja anak menjadi menyempit. Maraknya pekerja
anak di daerah pedesaan (14 persen) hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan di daerah
perkotaan (5 persen).
Ryder menjelaskan anak-anak yang menjadi pekerja anak berisiko mengalami cedera fisik dan
mental. Situasi pekerja anak membahayakan pendidikan anak, membatasi hak-hak mereka dan
membatasi peluang masa depan mereka, dan mengarah pada lingkaran setan kemiskinan dan
pekerja anak antar generasi. Untuk membalikkan tren peningkatan pekerja anak, ILO dan
UNICEF mendesak adanya perlindungan sosial yang memadai untuk semua, termasuk tunjangan
anak secara universal.
Selain itu, ILO dan UNICEF juga mendesak adanya peningkatan anggaran untuk pendidikan
berkualitas dan mengembalikan semua anak ke sekolah termasuk anak-anak yang putus sekolah
saat COVID-19. Juga mempromosikan pekerjaan yang layak bagi orang dewasa, sehingga
keluarga tidak perlu menggunakan anak-anak untuk membantu menghasilkan pendapatan
keluarga. Serta investasi dalam sistem perlindungan anak, pembangunan pertanian, pelayanan
publik pedesaan, infrastruktur dan mata pencarian.
357

