Page 360 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 360

WACANA KENAIKAN PPN SEMBAKO, KSPI: CARA-CARA KOLONIALISME, SIFAT
              PENJAJAH
              JAKARTA, - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI ) mengecam keras rencana pemerintah
              yang akan menaikkan tarif pajak pertambahan nilai ( PPN ) untuk sembako dan memberlakukan
              tax amnesty jilid 2. Iqbal menilai rencana tersebut merupakan sifat kolonialisme para penjajah.

              "Kami  mengecam  keras  rencana  untuk  memberlakukan  tax  amnesty  dan  menaikkan  PPN
              sembako . Ini adalah cara-cara kolonialisme. Sifat penjajah," kata Presiden KSPI Said Iqbal dalam
              keterangan tertulis, Jumat (11/6/2021).

              Menurut Iqbal, sangat tidak adil apabila orang kaya diberi relaksasi pajak. Ia mengatakan, ada
              produsen  mobil  untuk  beberapa  jenis  tertentu  yang  diberi  pengenaan  pajak  penjualan  atas
              barang  mewah  (PPnBM)  hingga  0  persen.  Akan  tetapi,  untuk  rakyat  kecil,  sembako  justru
              dikenakan kenaikan pajak.

              Iqbal  menegaskan,  kaum  buruh  akan  melakukan  perlawanan  jika  rencana  menaikkan  PPN
              sembako ini tetap dilanjutkan. Ia kemudian menilai rencana kenaikan PPN ini akan merugikan
              masyarakat karena akan membuat harga barang menjadi mahal.

              "Sudahlah kaum buruh terjadi PHK di mana-mana, kenaikan upahnya dikurangi dengan omnibus
              law,  nilai  pesangon yang  lebih  kecil  dari  peraturan  sebelumnya,  dan  pembayaran  THR yang
              masih banyak dicicil, sekarang dibebani lagi dengan harga barang yang melambung tinggi akibat
              kenaikan PPN," ujar dia.

              Selain menolak kenaikan PPN, KSPI juga menolak pemberlakukan tax amenesty jilid 2. Menurut
              Iqbal,  tax  amnesty  jilid  1  yang  diterbitkan  tahun  2016  sudah  ditolak  oleh  buruh  dengan
              menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

              Ia  berpandangan,  salah  satu  pertimbangan  adanya  tax  amnesty  ini bertujuan  meningkatkan
              pendapatan negara dari harta kekayaan orang kaya yang tersimpan di luar negeri.

              "Tetapi faktanya sampai hari ini, apa yang disampaikan bertolak belakang. Tax amnesty jilid 1
              tidak  sesuai  dengan  harapan.  Buktinya  ABPN  tetap  defisit,  pajak  tidak  sesuai  target  yang
              diharapkan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi negatif," ujar dia.

              Diberitakan  sebelumnya,  pemerintah  berencana  mengenakan  Pajak  Pertambahan  Nilai  (PPN)
              terhadap barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak melalui revisi
              kelima  Undang-Undang  Nomor  6  Tahun  1983  tentang  Ketentuan  Umum  dan  Tata  Cara
              Perpajakan (RUU KUP).

              Adapun, PPN sedianya diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 1983, namun kemudian diubah dalam
              UU  Cipta  Kerja.  Dalam  Pasal  112  UU  Cipta  Kerja,  barang  kebutuhan  pokok  yang  sangat
              dibutuhkan oleh rakyat banyak atau sembako termasuk objek yang tak dikenakan PPN.

              Namun, aturan baru yang disiapkan Kementerian Keuangan menghapus ketentuan itu. Menteri
              Keuangan  Sri  Mulyani  pun  menepis  anggapan  bahwa  pemerintah  tidak  mempertimbangkan
              pemulihan ekonomi karena adanya rencana pengenaan PPN pada sembako. Ia mengklaim, setiap
              kebijakan pajak yang diambil oleh pemerintah akan mempertimbangkan situasi pandemi dan
              pemulihan ekonomi. Sri Mulyani juga mengatakan, pemerintah tidak akan menjalankan kebijakan
              yang berdampak buruk pada pemulihan ekonomi.

              "Kemudian (rencana PPN sembako) di-blow up seolah-olah menjadi sesuatu yang bahkan tidak
              mempertimbangkan situasi hari ini. Padahal hari ini fokus kita itu memulihkan ekonomi," kata Sri
              Mulyani.

                                                           359
   355   356   357   358   359   360   361   362   363   364   365