Page 409 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 409

"Kami  mengecam  keras  rencana  untuk  memberlakukan  tax  amnesty  dan  menaikkan  PPN
              sembako. Ini adalah cara-cara kolonialisme. Sifat penjajah," kata Presiden KSPI Said Iqbal, Jumat
              (11/6/2021).

              Menurut Said, sangat tidak adil jika orang kaya diberi relaksasi pajak, termasuk produsen mobil
              untuk beberapa jenis tertentu diberi Pengenaan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM)
              hingga 0 persen.

              Tetapi untuk rakyat kecil, kata Said, sekedar untuk makan saja, sembako dikenakan kenaikan
              pajak.

              "Sekali lagi, ini sifat kolonialisme. Penjajah!" ucap Said.

              Dia  menegaskan,  jika  rencana  menaikkan  PPN  sembak  tetap  dilanjutkan,  kaum  buruh  akan
              menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan di jalan maupun mengajukan gugatan ke
              Mahkamah Konstitusi.

              "Sudahlah kaum buruh terjadi PHK di mana-mana, kenaikan upahnya dikurangi dengan omnibus
              law,  nilai  pesangon yang  lebih  kecil  dari  peraturan  sebelumnya,  dan  pembayaran  THR yang
              masih banyak dicicil, sekarang dibebani lagi dengan harga barang yang melambung tinggi akibat
              kenaikan PPN," kata Said.

              Selain menolak kenaikan PPN, KSPI juga menolak diberlakukannya tax amenesty jilid 2.

              Sebagaimana diketahui, tax amnesty jilid 1 yang diterbitkan 2016 ditolak oleh buruh dengan
              menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

              Gugatan tersebut ditolak MK, dengan salah satu pertimbangan tax amnesty bertujuan untuk
              meningkatkan pendapatan negara dari harta kekayaan orang kaya yang tersimpan di luar negeri.

              "Tetapi faktanya sampai hari ini, apa yang disampaikan bertolak belakang. Tax amnesty jilid 1
              tidak  sesuai  dengan  harapan.  Buktinya  ABPN  tetap  defisit,  pajak  tidak  sesuai  target  yang
              diharapkan, dan sekarang pertumbuhan ekonomi negatif," tutur Said.




































                                                           408
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414