Page 405 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 405
lebih banyak dan pendapatan perkapita lebih besar sehingga akan memberikan dampak positif
terhadap perekonomian yang memiliki vitalitas tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi dapat
melaju ke arah positif.
Selain menentukan atau (memberikan power ataupun kelesuan terhadap perekonomian).
pengangguran juga dapat menjadi penyulut api kemiskinan masyarakat dan memberi pengaruh
terhadap kehidupan lainnya seperti mengundang kriminalisasi atau kejahatan, memicu gangguan
psikis, ketidaksetaraan sosial dan politik, serta sederetan dampak-dam-pak lainnya yang akan
mengganggu dan membawa pengaruh negatif terhadap kehidupan.
Untuk lebih memperdalam kajian bagaimana besarnya pengaruh pengangguran, penulis
mengajak pembaca untuk melihat bagaimana tragedi beruntun yang ditimbulkan oleh tingkat
pengangguran di masa pandemi Covid-19. Hal ini bermula pada mulai munculnyaCovid-19 di
Indonesia yang menjadi ancaman bagi masyarakat, mengharuskan pemerintah mengambil
keputusan dan mengeluarkan kebijakan. Ditambah lagi tingkat kesadaran sebagian masyarakat
yang masih rendah dalam mematuhi panduan dalam melawan penyebaran Covid-19.
Berbagai kebijakan bermunculan dalam rentan waktu awal Maret 2020 lalu hingga kini. Bangsa
Indonesia masih pada posisi bertempur melawan dan memusnahkan Covid-19. Ada sebagian
daerah yang terpaksa harus lockdown, kebijakan PSBB, new normal dan lainnya agar aktivitas
masyarakat di luar rumah dibatasi dengan munculnya himbauan untuk di rumah saja
(#DiRumahAja).
Keputusan Pemerintah dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar sedari April 2020
menjadi PR yang harus secepatnya diselesaikan.
Sebab mengganggu kinerja perekonomian karena menyandung proses produksi, distribusi dan
kegiatan operasional lainnya. Seperti halnya pada perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia
Covid-19 membuat kelesuan terhadap bisnis-bisnis yang ada.
Agar perusahan tetap bertahan di tengah bisnis yang lesu banyak perusahaan yang melakukan
pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan para pegawai supaya dapat meminimalisir
pengeluaran dan memangkas biaya. Namun hal itu menambah keberadaan pengangguran di
Indonesia sebagaimana yang disampaikan Direktur Ketenagakerjaan Kemen-terian
PPN/Bappenas. Mahatmi Parwi-tasari Saronto saat Webinar Kagama Te-raskita (28/11/2020),
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia yaitu 7.07 %.
Peningkatan TPT diakibatkan oleh pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran di Indonesia
bertambah jumlahnya 2,67 juta orang menjadi 9,7 juta orang akibat pandemi yang melanda.
Bersamaan dengan itu Alson Naibaho Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
(KSBSI) DPC DKI Jakarta juga mengakui bahwa pada tahun 2021 sebanyak 2,67 juta orang akan
menganggur mendadak.
Hal ini disebabkan oleh sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada karena perusahaan-perusahaan
dan lapangan pekerjaan lainnya tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Sehingga kebutuhan
terhadap tenaga kerja menjadi berkurang dan berimbas pada sulitnya lowongan kerja. Keadaan
demikian akan menjadi beban bagi masyarakat karena menganggur membuat pendapatan
masyarakat menjadi menurun, tentunya daya beli masyarakat juga akan ikut menurun sehingga
mengakibatkan penurunan permintaan terhadap barang dan jasa.
Hal lain yang akan disayangkan terlepas dari menurunnya daya beli masyarakat yang berefek
pada komponen konsumen dari Gross Domestic Product (GDP) menurun yaitu penurunan
terhadap investasi modal. Masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tidak akan
404

