Page 73 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 73

TENANG, KEMNAKER PASTIKAN PEKERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING BERHAK
              TERIMA THR
              JAKARTA,  JOGLOSEMAR  NEWS.COM  -  Pekerja dengan status outsourcing (alih daya), kontrak,
              ataupun pekerja tetap (PKWT dan PKWTT) dipastikan berhak menerima Tunjangan Hari Raya
              (THR) Keagamaan. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial
              dan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (PHI  dan  Jamsos)  Kementerian  Ketenagakerjaan  Indah
              Anggoro Putri.

              Perihal pembayaran THR Keagamaan itu sesuai Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021
              tentang  Pelaksanaan  Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  Keagamaan  Tahun  2021  bagi
              Pekerja/Buruh  di  Perusahaan.  SE  tersebut  pada  prinsipnya  mewajibkan  pengusaha  untuk
              memberi THR Keagamaan secara penuh kepada pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," kata Putri dalam keterangan tertulis, Minggu (25/4/2021).
              Putri  mengatakan  ada  tiga  jenis  pekerja/buruh  yang  berhak  memperoleh  THR  Keagamaan.
              Pertama,  pekerja/buruh  berdasarkan  PKWT  (Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu)  atau  PKWTT
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau
              lebih.
              Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak
              H-30 hari sebelum hari raya keagamaan.

              Ketiga, pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, apabila
              dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja.  Para  pekerja  outsourcing  maupun  pekerja  kontrak,  asalkan  telah bekerja  selama  satu
              bulan atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung,
              maka berhak mendapatkan THR juga," ujar Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus  menerus  atau  lebih,
              sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih; atau
              upah pokok termasuk tunjangan tetap. Apabila upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tidak
              tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan THR yang nilainya lebih besar dari peraturan perundang-undangan, di mana hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ujar Putri.

              Adapun  pekerja/buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian,  upah  satu  bulan
              dihitung melalui dua ketentuan.

              Ketentuan tersebut memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah yang diterima dalam
              12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan (rata-rata upah yang
              diterima tiap bulan selama masa kerja).


                                                           72
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78