Page 460 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 460

Dari kaca mata investor, hubungan kerja antara buruh dan pengusaha bakal lebih diatur dalam
              omnibus law, justru ini akan sangat penting. Untuk itu, investor sangat menunggu hasil dari
              pembahasan RUU omnibus law.

              Ia mengatakan pasar sangat menunggu RUU ini karena menyangkut kepastian biaya, kepastian
              legal dari kemungkinan tuntutan karyawan, dan kecepatan bereaksi terhadap perubahan situasi
              ekonomi dan industri bagi pelaku usaha.

              Sehingga ujung-ujungnya memudahkan iklim investasi dan penyerapan tenaga kerja. Apalagi
              saat ini Indonesia dihadapkan dengan masalah PHK massal akibat pandemi covid-19.

              Berikut ringkasan dari penjelasan RUU Cipta Kerja yang dirilis oleh Kemenko Perekonomian:  RUU
              Cipta Kerja terdiri dari 15 Bab dan 174 Pasal:  Bab III: Peningkatan Ekosistem Investasi dan
              Kegiatan Berusaha  1. Penerapan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (Pasal 8 - Pasal 13)  2.
              Penyederhanaan Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha dan Pengadaan Lahan (Pasal 14 - Pasal
              26)    a)  Kesesuaian  Kegiatan  Pemanfaatan  Ruang  (Penerapan  RDTR  Digital)    b) Persetujuan
              Lingkungan  (untuk  kegiatan  risiko  tinggi  memerlukan  AMDAL,  risiko  menengah  menerapkan
              standar)    c)  Persetujuan  Bangunan  Gedung  dan  Sertifikat  Laik  Fungsi  (penerapan  standar
              bangunan gedung dan pengawasan oleh profesi  bersertifikat).

              3. Penyederhanaan Perizinan Berusaha Sektor (Pasal 27 -Pasal 82)  a) Pengaturan Perizinan
              Berusaha sektor menyangkut:  Penyeragaman konsepsi Perizinan Berusaha (standar) dengan
              penerapan  Risk  Based  Approach    Penetapan  NSPK  Perizinan  Berusaha  Sektor  sebagai  dasar
              penerbitan perizinan dan pengawasan oleh K/L dan Pemda sesuai kewenangan masing-masing
              Pengaturan  pengenaan  sanksi  administrasi  dan  pengenaan  sanksi  pidana  merupakan  upaya
              terakhir (ultimum remedium)  b) Cakupan 15 Sektor:  1. Kelautan dan Perikanan, 2. Pertanian,
              3. Kehutanan, 4. Energi dan Sumber Daya Mineral, 5. Ketenaganukliran, 6. Perindustrian, 7.
              Perdagangan,  Metrologi  Legal,  Jaminan  Produk  Halal,  dan  Standardisasi  dan  Penilaian
              Kesesuaian, 8. Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 9. Transportasi, 10. Kesehatan, obat
              dan Makanan, 11. Pendidikan dan Kebudayaan,  12. Kepariwisataan, 13. Keagamaan, 14. Pos,
              telekomunikasi,  dan  penyiaran,  15.  Pertahanan  dan  keamanan    c)  Persyaratan  Investasi
              Kepastian  6  bidang  usaha  yang  tertutup  untuk investasi    Penerapan  investasi  prioritas yang
              diberikan fasilitas dan kemudahan  Pembatasan investasi asing tidak dapat masuk dalam bidang
              UMK  Bab IV: Ketenagakerjaan  1. Pengupahan dan Upah Minimum: Upah tidak turun, kenaikan
              menggunakan formulasi pertumbuhan ekonomi daerah, serta formulasi khusus  untuk industri
              padat kaya (Gubernur menetapkan Upah Minimum).

              2. Pesangon PHK: Penyesuaian perhitungan besaran pesangon PHK dan menambahkan Program
              Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) di samping program yang telah ada (Jaminan Kecelakaan
              Kerja/JKK, Jaminan Kematian/JKm, Jaminan Pensiun/JP, Jamiman Hari Tua/JHT.

              3. Waktu Kerja: Waktu kerja yang umum paling lama 8 jam/hari & 40 jam/minggu. Untuk
              pekerjaan  yang  khusus,  waktunya  dapat  kurang  dari  8    jam/hari  (pekerjaan  paruh  waktu,
              ekonomi digital) atau dapat melebihi 8 jam/hari (migas, pertambangan, perkebunan, pertanian
              dan perikanan).

              4. Pekerja Kontrak (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu/PKWT): Pekerja Kontrak diberikan hak dan
              perlindungan yang sama dengan Pekerja Tetap,  antara lain dalam hal: Upah, Jaminan Sosial,
              Perlindungan K3, termasuk kompensasi pengakhiran hubungan kerja.

              5.  Alih  Daya  (Outsourcing):  Pengusaha  Alih  Daya  (outsourcing)  wajib  memberikan  hak  dan
              perlindungan yang sama bagi Pekerja Kontrak  maupun Pekerja Tetap, antara lain dalam hal:
              Upah, Jaminan Sosial, Perlindungan K3.




                                                           459
   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465