Page 528 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 528

Anggota Badan Legislasi DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, menyebut RUU Cipta Kerja ini akan
              banyak  mengubah  norma-norma  ketenagakerjaan  di  Indonesia  yang  selama  ini  sudah  baik
              menjadi berantakan. RUU ini dinilai hanya menguntungkan investor dan tenaga kerja asing .
              Untuk itu PKS menolak klaster ketenagakerjaan ini.

              "Ini  sangat  ironis.  Pemerintah  lebih  memikirkan  kepentingan  tenaga  kerja  asing  daripada
              kepentingan  tenaga  kerja  dalam  negeri.  Sepertinya  pengorbanan  kita  berlebihan,  termasuk
              mengorbankan hak tenaga kerja dalam negeri, demi mendapatkan investasi. Seharusnya tidak
              begitu. Dalam kondisi seperti sekarang Pemerintah justru perlu membuat aturan yang memihak
              kepada bangsa sendiri. Bukan kepentingan asing," tegas Mulyanto, Jumat (14/8/2020).

              Wakil  Ketua  Fraksi  PKS  DPR  RI  Bidang  Industri  dan  Pembangunan  ini  minta  Pemerintah
              sebaiknya lebih memikirkan cara meningkatkan produktivitas tenaga kerja dalam negeri. Sebab
              selain soal investasi, salah satu faktor penting bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional
              adalah produktivitas pekerja.

              "Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, bila ingin menjadikan Indonesia sebagai negara
              yang kuat dan kompetitif secara global," jelas Mulyanto.

              Mulyanto  menambahkan  salah  satu  indikator  sehatnya  pertumbuhan  ekonomi  adalah  angka
              produktivitas tenaga kerja yang tinggi, baik dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Karena,
              peningkatan  produktivitas  memberikan  indikasi  positif  terhadap  kecenderungan  terjadinya
              peningkatan pendapatan, yang berarti juga terjadi peningkatan kemakmuran.

              "Semestinya dalam rangka mendorong ekonomi pasca pandemi Covid-19, Pemerintah, melalui
              RUU  Omnibus  Law  memacu  peningkatan  produktivitas  pekerja  sebagai  bagian  dari  upaya
              peningkatan  produktivitas  nasional,"  ujar  Sekretaris  Kementerian  Riset  dan  Teknologi  zaman
              Presiden SBY ini.

              Mulyanto mengutip laporan Bank Dunia yang dirilis Juli 2020 dengan judul Indonesia Economic
              Prospects: The Long Road to Recovery. Bank Dunia menilai terdapat beberapa klausul dalam
              RUU Omnibus Law Ciptaker yang berpotensi memperlemah perlindungan terhadap tenaga kerja
              serta meningkatkan ketimpangan penerimaan, yakni ketentuan terkait: skema upah minimum
              serta pembayaran pesangon yang lebih longgar dibandingkan dengan ketentuan dalam UU No.
              13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

              Sementara menurut laporan GCR (Global Competitive Report) yang dirilis World Economic Forum
              (WEF) tahun 2019, upah dan produktivitas pekerja Indonesia berada di peringkat ke-28 yang
              terus  turun  sejak  tahun  2018,  jauh  di  bawah  Singapura  dan  Malaysia,  yang  berada  pada
              peringkat ke-3 dan ke-6.

              Data  ini  pun  dikuatkan  oleh  laporan  Kemenkeu  mengenai  tingkat  produktivitas  pekerja  kita
              dibandingkan  Negara  Asean  lainnya  dalam  periode  2010-2017.  Tingkat produktivitas pekerja
              Indonesia  berada  pada  level  rendah  dengan  hanya  tumbuh  3,8  persen,  lebih  lambat  jika
              dibandingkan  dengan  negara  tetangga,  seperti Thailand  (5,3  persen), Vietnam  (5,8  persen),
              Filipina (4,1 persen), dan Kamboja (4,3 persen).

              "Data-data di atas menguatkan, bahwa produktivitas pekerja Indonesia masih lemah dan tumbuh
              hanya sebesar 3,8% jauh di bawah Negara-negara lainnya di Asean.

              Pemerintah harus serius menangani masalah ini pasca Pandemi Covid-19, sekaligus mendorong
              Indonesia menjadi negara yang memiiki daya saing global. Karena itu janji Pemerintah untuk
              mencabut Klaster Ketenagkerjaan dari pembahasan RUU Omnibus Law Ciptaker harus segera
              ditepati," tandas Mulyanto..


                                                           527
   523   524   525   526   527   528   529   530   531   532   533