Page 16 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 16

Jika  kondisi  keuangan  menyulitkan  pengusaha  melaksanakan  perjanjian  kerja,  pelaksanaan
              perjanjian kerja dapat ditunda hingga kondisi ini berakhir," ujarnya.


              WARTAWAN SEMAKIN MINIM PERLINDUNGAN

              Keselamatan  wartawan  di  Indonesia  selama  masa  pandemi  Covid  19  justru  semakin
              mengkhawatirkan. Undang-Undang Pers belum cukup melindungi wartawan.

              Fungsi pers sangat penting pada masa pandemi Covid-19 untuk menyediakan informasi yang
              berkualitas  dan  kredibel  serta  membantu  masyarakat  melewati  tantangan  krisis.  Ini  bisa
              terwujud  jika  wartawan  sebagai  garda  terdepan  untuk  menyediakan  informasi  terlindungi
              keselamatan dan kesejahteraannya.

              Namun, hasil penelitian Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Lembaga Bantuan Hukum
              Pers  (LBH  Pers),  dan  Indonesia  Judicial  Research  Society  (IJRS)  menunjukkan,  keselamatan
              wartawan  di  Indonesia  selama  masa  pandemi  justru  berada  dalam  situasi  yang
              mengkhawatirkan. Meski wartawan dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, dalam
              praktiknya undang-un-dang ini belum cukup melindungi wartawan.

              Penelitian ini dilakukan melalui metode survei daring terhadap 125 wartawan di 84 media serta
              wawancara  pendalaman  terhadap  wartawan,  pimpinan  media,  dan  pakar  pada  13  Maret-31
              Oktober 2020. Dari 125 responden, sebanyak 24 persen menyatakan mengalami serangan fisik,
              nonfisik, dan hukum ketika melakukan kerja jurnalistik.

              "Ini angka yang tidak sedikit. Ini juga terafirmasi dari data kekerasan terhadap wartawan yang
              kami  lakukan  di  mana  selama  2020  terjadi  117  kasus  atau  meningkat  lebih  dari  30  persen
              dibandingkan pada 2019," kata Direktur Eksekutif LBH Pers Ade Wahyudin, Kamis (21/1/2021).
              Bentuk serangan yang paling banyak dialami wartawan adalah serangan nonfisik dan serangan
              digital, masing-masing 16 persen responden. Serangan mulai dari intimidasi dan kata-kata kasar
              atau kekerasan verbal (51 kasus), doxing, peretasan, intimidasi digital, hingga spam messages.

              Kekerasan  nonfisik  itu  berkaitan  langsung  dengan  pandemi.  Dalam  kasus  peretasan  digital,
              misalnya, sejumlah media daring mendapatkan serangan digital bersamaan dengan berita terkait
              penanganan pandemi Covid-19 yang mereka publikasikan, demikian juga dengan doxing yang
              dialami seorang wartawan media daring.
              Adapun serangan hukum yang dialami wartawan (4 persen) terkait pasal-pasal karet dalam UU
              Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Meski secara persentase kecil, tetapi merujuk hasil
              monitoring kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan LBH Pers, selama 2020 terdapat 30
              kasus serangan hukum (kriminalisasi) terhadap wartawan.
              Anggota Komisi III DPR, Arsul Sani, mengatakan, perlindungan hukum bagi wartawan harus
              ditingkatkan.  Faktanya,  UU  Pers  belum  sepenuhnya  melindungi  wartawan.  "UU  Pers  sudah
              berusia 22 tahun, apakah perlu direvisi atau bagaimana? Saya setuju Pasal 27 dan 28 (pasal-
              pasal karet) UU ITE direvisi," katanya.

              Namun, di sisi lain, menurut Arsul, pers, baik wartawan maupun perusahaan media, harus taat
              pada Kode Etik Jurnalistik. Ada kecenderungan pelaksanaan standar jurnalistik sangat longgar
              sehingga memunculkan sengketa pers.
              Hal senada dikatakan anggota Dewan Pers, M Agung Dharmajaya. "Kebebasan pers itu milik
              rakyat. Karena itu, pers tidak boleh membuat berita membabi buta. Banyak juga pelanggaran



                                                           15
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21