Page 209 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 AGUSTUS 2020
P. 209

Diketahui, kalangan buruh kembali berunjuk rasa di depan Gedung  DPR  , Jakarta menyuarakan
              pendapat ihwal RUU Omnibus Law Cipta Kerja pada hari ini, Selasa (25/8).
              "DPR RI mengajak kelompok buruh yang memiliki aspirasi untuk berjuang tidak lewat aksi yang
              berpotensi menimbulkan kemacetan, berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat lainnya,
              dan berpotensi jadi klaster penyebaran Covid-19," kata Puan dalam keterangan tertulis, Selasa
              (25/8).

              Ketua DPP PDIP itu mengingatkan bahwa sudah ada pertemuan antara parlemen dengan 16
              perwakilan serikat buruh atau serikat pekerja pada 20-21 Agustus 2020 di Jakarta. Pertemuan
              itu khusus membahas RUU Cipta Kerja yang dikritik kaum buruh.

              Puan  bilang  pertemuan  itu  menghasilkan  empat  kesepahaman  soal  klaster  ketenagakerjaan
              dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Dua di antaranya adalah soal hubungan ketenagakerjaan
              yang  lebih  adaptif  terhadap  perkembangan  industri  dan  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  yang
              terbuka terhadap masukan publik.
              Putri  Presiden  kelima  RI  Megawati  Soekarnoputri  ini  menegaskan  pihaknya  akan  tetap
              melanjutkan pembahasan RUU Cipta Kerja. Dia menegaskan bahwa DPR akan melakukannya
              secara cermat, hati-hati, transparan, terbuka, dan mengutamakan kesinambungan kepentingan
              nasional.
              "Kami  mendukung  terciptanya  lapangan  kerja,  perbaikan  ekonomi,  serta  tumbuh  dan
              berkembangnya UMKM lewat RUU Cipta Kerja," ujar Puan.

              Hari ini Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan
              Kompleks Parlemen, Jakarta. KSPI menyebut aksi dihadiri puluhan ribu buruh dengan agenda
              menolak RUU Cipta Kerja dan menuntut penghentian PHK. Di sisi lain, pimpinan DPR mengaku
              bersepakat setidaknya dalam empat hal dengan para buruh terkait Omnibus Law RUU Cipta
              Kerja.
              Hal itu terjadi usai Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan dua pimpinan Badan Legislasi
              DPR, Willy Aditya dan Supratman Andi Agtas, menemui massa demonstran gabungan serikat
              buruh yang menolak RUU Ciptaker di depan Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Selasa (25/8).

              Willy  mengungkap  poin  kesepakatan  pertama  adalah  bahwa  materi  muatan  Klaster
              Ketenagakerjaan RUU Cipta Kerja yang sudah diatur dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK)
              tak bisa diganggu gugat.

              "Jadi  terkait  Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu,  Upah,  Pesangon,  Hubungan  Kerja,  PHK,
              penyelesaian perselisihan hubungan industrial, Jaminan Sosial, dan material muatan lain yang
              terkait dengan putusan MK, harus didasarkan pada putusan Mahkamah Konstitusi," kata dia,
              kepada CNNIndonesia.com.

              Lalu kesepakatan kedua adalah soal sanksi pidana ketenagakerjaan dalam RUU Cipta Kerja akan
              dikembalikan  sesuai  ketentuan  UU  Nomor  13  Tahun  2003  tentang  Ketenagakerjaan.
              Kesepakatan ketiga berkenaan dengan hubungan ketenagakerjaan yang lebih adaptif terhadap
              perkembangan industri 4.0. Nantinya, hubungan itu pengaturannya dapat dimasukkan di dalam
              RUU Cipta Kerja dan terbuka terhadap masukan publik.
              "Dan terakhir akan memasukkan pokok-pokok pikiran dari serikat buruh ke dalam DIM (daftar
              inventarisasi  masalah)  tiap  fraksi,"  kata  Willy.  Selain  itu,  pihaknya  akan  memperjuangkan
              asipirasi  buruh  untuk  mempersingkat  masa  sengketa  perburuhan  yang prosesnya  sering kali
              berlarut-larut.

              "Iya itu salah satu pokok pikiran yang akan kita masukkan ke dalam DIM," ujar Willy. (dhf/bmw).

                                                           208
   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214