Page 1005 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1005

DAFTAR UMP 2021 DI 18 PROVINSI YANG SUDAH DIPASTIKAN TAK NAIK

              Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyatakan, per hari Selasa, 27 Oktober 2020,
              Pukul 16.35 WIB, ada 18 daerah telah melaksanakan sidang dewan pengupahan provinsi dan
              menyepakati tidak menaikkan upah minimum atau UMP 2021.

              Hal  ini  sesuai  dengan  Surat  Edaran  (SE)  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  11/HK04/X/2020
              tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

              Mengutip  SE  tersebut,  Selasa  (27/10/2020),  dituliskan  bahwa  pandemi  Covid-19  telah
              berdampak  pada  kondisi  perekonomian  dan  kemampuan  perusahaan  dalam  memenuhi  hak
              pekerja dan buruh, termasuk dalam membayar upah.

              Atas dasar hal tersebut, Menaker Ida meminta kepada para gubernur di seluruh Indonesia untuk
              melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) di 2021 sama dengan
              tahun sebelumnya. Dengan kata lain, tidak ada kenaikan UMP 2021.

              Dirangkum oleh Rabu (28/10/2020), berikut daftar 18 provinsi yang memastikan tidak menaikkan
              UMP 2021: 1) Jawa Barat Rp 1.810.350 2) Banten Rp 2.460.968 3) Bali Rp 2.493.523 4) Aceh
              Rp  3.165.030  5)  Lampung  Rp  2.431.324  6)  Bengkulu  Rp  2.213.604  7)  Kepulauan  Riau  Rp
              3.005.383 8) Bangka Belitung Rp 3.230.022 9) Nusa Tenggara Barat Rp 2.183.883 10) Nusa
              Tenggara Timur Rp 1.945.902 11) Sulawesi Tengah Rp 2.303.710 12) Sulawesi Tenggara Rp
              2.552.014 13) Sulawesi Barat Rp 2.571.328 14) Maluku Utara Rp 2.721.530 15) Kalimantan Barat
              Rp 2.399.698 16) Kalimantan Timur Rp 2.981.378 17) Kalimantan Tengah Rp 2.890.093 18)
              Papua  Rp  3.516.700  Sekjen  Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (OPSI)  Timboel  Siregar
              meminta agar para Gubernur tetap menaikkan UMP 2021 dengan kisaran 1,5 hingga 2 persen.

              Usulan  tersebut  berdasarkan  data  BPS,  sejak  Januari  hingga  Agustus  2020  tingkat  inflasi
              mencapai 0,93 persen. Sementara tingkat inflasi dari tahun ke tahun atau year on year (yoy)
              dari Agustus 2020 ke Agustus 2019 adalah sebesar 1,32 persen.
              "Dengan data ini seharusnya para Gubernur dapat mempertimbangakan untuk tetap menaikkan
              UMP 2021 walaupun hanya berkisar inflasi yoy yaitu sekitar 1,5 persen sampai 2 persen di atas
              angka inflasi yoy Agustus, dengan juga mempertimbangkan kondisi September, Oktober sampai
              Desember 2020," kata Timboel, Rabu (28/10/2020).
              Menurutnya, kenaikan upah minimum tiap tahun biasanya telah menjadi sumber perselisihan
              antara Pemerintah, Apindo dan SP/SB, yang biasanya berujung di Pengadilan Tata Usaha Negara
              (TUN), dan tahun ini sepertinya akan terulang lagi.

              "Dipastikan SE Menaker tahun ini akan diprotes oleh kalangan SP/SB. Kalangan SP/SB menilai
              SE ini akan mempengaruhi para Gubernur untuk tidak menaikkan upah minimum tahun 2021,"
              ujarnya.

              Tentunya SP/SB harus mempengaruhi para gubernur untuk tidak mengikuti SE Menaker tersebut
              dan meyakinkan Gubernur untuk tetap menaikkan upah minimum dalam persentase yang wajar
              dan bijak, yang bisa mendukung daya beli pekerja dan kelangsungan usaha.

              "Saya menilai permintaan Menaker untuk tidak menaikkan upah minimum di 2021 dan adanya
              usulan SP yang meminta kenaikan upah minimum di 2021 sebesar 8 persen adalah tidak tepat.
              Harus dicari solusi kenaikan UM 2021 dengan tetap mempertimbangkan kesejahteraan pekerja
              dan kelangsungan usaha," ungkapnya.

              Dimana kenaikan upah minimum dengan mempertimbangkan inflasi YoY akan memiliki dampak
              ikutan  yang  positif.  Dengan  adanya  kenaikan  upah  minimum  maka  daya  beli  pekerja  tidak


                                                          1004
   1000   1001   1002   1003   1004   1005   1006   1007   1008   1009   1010