Page 1175 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1175

Ida  dalam  gelar  wicara  virtual  yang  diadakan  Media  Center  Satgas  Penanganan  Covid-19  di
              Gedung Graha BNPB Jakarta. Selasa.
              Penetapan upah itu didasarkan pada berbagai pandangan dan dialog atau diskusi melalui forum
              Dewan Pengupahan Nasional (Depenas).

              "Ini adalah jalan lengah yang harus diambil oleh pemerintah dalam kondisi yang sulit dan tidak
              mudah,"tutur Menaker.

              Depenas  telah  melakukan  kajian  secara  mendalam  terkait  dampak  Covid-19  terhadap
              pengupahan  dan  menyimpulkan  bahwa  pandemi  Covid-19  telah  berdampak  pada  kondisi
              perekonomian dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi hak pekerja atau buruh termasuk
              dalam membayar upah.

              Dalam rangka memberikan perlindungan dan kelangsungan bekerja pekerja atau buruh serta
              menjaga kelangsungan usaha, perlu dilakukan penyesuaian terhadap penetapan upah minimum
              pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

              Menaker  Ida  menuturkan  penetapan  upah  minimum  setelah  tahun  2021  dikembalikan
              sebagaimana ketentuan perundang-undangan.

              Surat  edaran  tersebut  mempertimbangkan  berbagai  dasar  hukum  termasuk  Undang-Undang
              (UU)  Nomor  13/2003,UU  Nomor2/2020.  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  78/2015,  PP
              Nomor23/2020, Permenaker Nomor 21 /2016. dan Permenaker Nomor 15/2018.
              Menurut penetapan tersebut, maka besaran upah minimun di 34 provinsi di Indonesia tetap
              sama dengan tahun 2020. Di antaranya, upah minimum di Sumut, Aceh, Riau dan DKI Jakarta
              tahun 2021 tetap sama dengan 2020 masing-masing Rp 2.499.422, Rp 3.165.030, Rp2.888.563
              dan Rp4.276.349.
              Buruh Protes

              Kebijakan  pemerintah  mempertahankan  UMP  mengudang  protes  keras  dari  para  massa  dan
              organisasi buruh.

              Ketua  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Said  Iqbal  menyesalkan  sikap  Menteri
              Ketenagakerjaan.  Dia  mengatakan  buruh  akan  melakukan  perlawanan  untuk  menolak  tidak
              adanya kenaikan upah minimum 2021 dan penolakan pengesahan Omnibus Law Undang-Undang
              Cipta Kerja.

              "Menaker tidak memiliki sensitivitas nasib buruh, hanya memandang kepentingan pengusaha
              semata," katanya, Selasa (27/10).

              Said mengakui memahami kondisi pengusaha yang sedang susah, tapi buruh jauh lebih susah.
              Seharusnya pemerintah bisa bersikap lebih adil dengan menaikkan upah minimum 2021.

              Menurutnya bagi perusahaan yang tidak mampu seharusnya dapat melakukan penangguhan
              penaikan upah minimum setelah berunding dengan serikat pekerjadi tingkat perusahaan dan
              melaporkannya ke Kemnaker.

              Oleh karena itu, lanjutnya, KSPI dan seluruh serikat buruh di Indonesia akan melakukan aksi
              nasional besar-besaran di 24 provinsi pada 2 November dan 9-10 November2020. Aksi ini akan
              diikuti  massa  buruh  di  Mahkamah  Konstitusi,  Istana  Negara.  DPR.  dan  Kantor  Gubernur  di
              seluruh Indonesia dengan permintaan membatalkan Omnibus Law UU Ciptaker dan menuntut
              kenaikan upah minimum 2021 (Ant/dtc)


                                                          1174
   1170   1171   1172   1173   1174   1175   1176   1177   1178   1179   1180