Page 1415 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1415

2021  ini,  katanya,  sudah  dirumuskan  Dewan  Pengupahan  Provinsi  Jawa  Barat  dan  tinggal
              ditandatangani Gubernur Jabar Ridwan Kamil, kemudian diumumkan.


              UMP JABAR 2021 DIREKOMENDASIKAN TIDAK NAIK, MASIH RP 1,8 JUTA

              Kepala  Dinas  Tenaga  Kerja  dan  Transmigrasi  Provinsi  Jawa  Barat,  Rachmat  Taufik  Garsadi,
              mengatakan  Dewan  Pengupahan  Provinsi  Jawa  Barat  merekomendasikan  Upah  Minimum
              Provinsi (UMP) 2021 tidak berubah atau tetap sesuai UMP 2020, yakni Rp 1.810.350.
              Rachmat mengatakan hal tersebut mengikuti surat edaran Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah
              mengenai penetapan upah minimum tahun 2021 di masa pandemi Covid-19. Draft UMP Jabar
              2021  ini,  katanya,  sudah  dirumuskan  Dewan  Pengupahan  Provinsi  Jawa  Barat  dan  tinggal
              ditandatangani Gubernur Jabar Ridwan Kamil, kemudian diumumkan.
              "Intinya merekomendasikan untuk ditetapkan sebagai UMP 2021, dengan dasar mengikuti surat
              edaran menteri. Jadi tidak ada kenaikan, dan tidak ada penurunan. Sama dengan 2020," kata
              Garsadi melalui ponsel, Selasa (27/10).

              Garsadi menuturkan pihaknya sudah menyampaikan hal tersebut kepada Biro Pelayanan dan
              Pengembangan  Sosial  dan  Biro  Hukum  Pemprov  Jabar,  untuk  kemudian  diserahkan  kepada
              Gubernur Jabar untuk ditandatangani.

              "Hari ini saya sampaikan ke Biro Yanbangsos dan Biro Hukum, nanti Biro Hukum yang proses
              pengesahan Pak Gubernur. Jadi sesuai lah, paling lambat tanggal 31 Oktober ditetapkan Pak
              Gubernur," katanya.

              Rekomendasi untuk tidak menaikkan UMP, katanya, sempat mendapat penentangan dari serikat
              pekerja dan buruh. Namun pihaknya menjelaskan bahwa UMP harus tetap ditetapkan sebagai
              batas bawah upah minimum kabupaten atau kota (UMK).

              "Serikat awalnya menentang. Tapi saya sampaikan, ini jaring pengaman paling bawah, justru
              harus ditetapkan. Kita menggunakan surat edaran menteri karena tidak ada lagi yang bisa kita
              lakukan," ucapnya.

              Garsadi mengatakan jika pihaknya mengikuti Peraturan Menaker Tahun 78 Tahun 2015 tentang
              Pengupahan,  yang  menyatakan  bahwa  setelah  peraturan  tersebut  diberlakukan  lima  tahun,
              harus segara ditetapkan kebutuhan hidup layak (KHL). Di Peraturan Menaker Nomor 18 Tahun
              2020, katanya, memang sudah ditetapkan 64 komponen KHL.

              Kemudian dalam peraturan tersebut disampaikan, satu bulan sebelum UMP ditetapkan, Dewan
              Pengupahan  Provinsi  harus  menetapkan  KHL  provinsi  dengan  mengacu  data-data  dari  BPS.
              Sampai  saat  ini,  katanya,  dewan  pengupahan  belum  menerimanya,  dan  otomatis  harus
              menggunakan formulasi.

              "Dengan kondisi sekarang, jika akan menggunakan formulasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi,
              itu akan minus. otomatis UMP turun. Saya tidak mau UMP buruh jadinya turun. Satu-satunya
              cara ya surat edaran itu. Jadi win-win solusi," tuturnya.

              Merujuk pada surat edaran Menteri Ketenagakerjaan tersebut, UMP di Jawa Barat tidak akan
              naik tahun ini. Dalam surat edaran tersebut Menteri Ida Fauziah menuliskan tiga poin penting
              dan meminta Gubernur untuk melakukan koordinasi dan menyampaikan surat edaran tersebut
              kepada bupati dan wali kota di Jawa Barat.





                                                          1414
   1410   1411   1412   1413   1414   1415   1416   1417   1418   1419   1420