Page 1472 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1472

Menurut Ida, penerbitan SE tersebut berdasarkan kajian yang dilakukan secara mendalam oleh
              Dewan  Pengupahan  Nasional  (Depenas)  terkait  dampak  Covid-19  terhadap  pengupahan.
              Pandemi Covid-19 telah berdampak kondisi perekonomian dan kemampuan perusahaan dalam
              memenuhi hak pekerja/buruh termasuk dalam membayar upah.

              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyesalkan sikap Menaker Ida Fauziyah yang
              mengeluarkan  surat  edaran  (SE)  Nomor  M/11/HK.4/x/2020  tertanggal  26  Oktober  2020.
              Presiden  KSPI  Said  Iqbal  mengatakan,  dengan  adanya  surat  edaran  tersebut,  buruh  akan
              semakin keras terhadap penolakan tidak adanya kenaikan upah minimum 2021 dan penolakan
              omnibus law UU Cipta Kerja.

              "Menaker tidak memiliki sensitivitas nasib buruh, hanya memandang kepentingan pengusaha
              semata," kata Said Iqbal dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Selasa (27/10).

              Said meminta, sebaiknya pemerintah bersikap lebih adil, yaitu tetap menaikkan upah minimum
              2021. Namun, bagi perusahaan yang tidak mampu maka dapat melakukan penangguhan dengan
              tidak menaikan upah minimum setelah berunding dengan serikat pekerja di tingkat perusahaan
              dan melaporkannya ke Kemenaker.

              "Jangan dipukul rata semua perusahaan tidak mampu. Faktanya di tahun 1998 pun tetap ada
              kenaikan upah minimum untuk menjaga daya beli masyarakat," tegasnya.
              Ia pun mempertanyakan surat edaran tersebut sudah diketahui presiden Joko Widodo (Jokowi).
              Dirinya mencurigai bahwa surat edaran tersebut dibuat atas keputusan sepihak Menaker.

              "Apakah presiden sudah mengetahui keputusan Menaker ini? Atau hanya keputusan sepihak
              Menaker?" tanyanya.

              KSPI dan seluruh serikat buruh di Indonesia berencana akan melakukan aksi nasional besar-
              besaran di 24 provinsi pada 2 November. Selain itu buruh juga merencanakan aksi pada 9 sampai
              10  November  yang  diikuti  puluhan  dan  bahkan  ratusan  ribu  buruh  di  Mahkamah  Konstitusi,
              Istana, DPR RI, dan di kantor Gubernur di seluruh Indonesia dengan membawa isu batalkan
              omnibus law UU Cipta Kerja dan meminta kenaikan upah minimum 2021 untuk menjaga daya
              beli masyarakat.

              Pada hari ini, ribuan buruh Jawa Barat (Jabar) sudah lebih dulu menggelar aksi ujuk rasa di
              Gedung Sate, Selasa (27/10). Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat FSP TSK SPSI /ketua DPD
              KSPSI Provinsi Jawa Barat (Jabar), Roy Jinto Ferianto, buruh yang melakukan aksi sekitar 3.000
              buruh.

              "Aksi  ini  berdasarkan  hasil  rapat  serikat  pekerja/serikat  buruh  di  tingkat  Jabar.  Kami  akan
              melakukan aksi unjuk rasa pada 27 Oktober 2020 di Gubernur dan Disnakertrans Jabar," ujar
              Roy kepada Republika, Selasa (27/10).

              Adapun tuntutan buruh di Jabar adalah, pertama menolak olak UMP 2021 dengan alasan bahwa
              yang berlaku di Jawa Barat adalah UMK dan UMSK Jabar, tidak membutuhkan UMP. Tuntutan
              kedua, kata Roy, adalah agar pemerintah mentapkan UMK 2021 dengan kenaikan minimal 8
              persen. Dasar pertimbangannya, kenaikkan upah 5 tahun terakhir sejak adanya PP No 78 tahun
              2015 adalah rata-rata 5 persen.
              "Pertimbangan kedua adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 karena UMK 2021
              walaupun ditetapkan di tahun 2020, tapi berlaku di Januari 2021," kata Roy.

              Karena itu, kata Roy, perhitungan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 bisa
              dijadikan dasar untuk menetapkan upah minimum tahun 2021. Tuntutan ketiga, kata dia, adalah


                                                          1471
   1467   1468   1469   1470   1471   1472   1473   1474   1475   1476   1477