Page 1587 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1587

Kepala  Dinas  Ketenagakerjaan  dan  Transmigrasi  (Disnakertrans)  DIY,  Aria  Nugrahadi,
              menuturkan SE tersebut masih dikoordinasikan dengan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten dan
              Kota serta Dewan Pengupahan Daerah.



              UPAH PEKERJA TAK NAIK TAHUN DEPAN, SERIKAT BURUH JOGJA TOLAK SE
              MENAKER

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  menerbitkan  Surat  Edaran  (SE)  yang  menginstruksikan
              Kepala Daerah untuk melakukan penyesuaian upah minimum 2021 dengan 2020, sehingga tidak
              ada kenaikan. Serikat buruh mengecam SE ini sebagai bentuk ketidak-berpihakan pemerintah
              pada buruh.

              Ada tiga poin penting dalam SE Menaker No. 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum
              tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19, yakni penyesuaian upah minimum 2021 dengan 2020,
              melaksanakan  penetapan  upah  minimum  2021  telah  sesuai  perundang-undangan  dan
              mengumumkan penetapan upah minimum pada 31 Oktober.

              Sekretaris  Konfederasi  Serikat  Buruh  Seluruh  Indonesia  (KSPSI)  DIY,  Irsyad  Ade  Irawan,
              menjelaskan SE Menaker tersebut bukan merupakan produk hukum sehingga tidak bisa dijadikan
              acuan penetapan upah minimum 2021.

              "SE Menaker ini semakin menandakan bahwa Rezim Jokowi tidak berdiri di aras semua golongan,
              tapi  melayani  kepentingan  pengusaha  atau  pemilik  modal.  Ini  menjadi  satu  bentuk  konkrit
              penindasan  dan  akan  menyebabkan  penderitaan  bagi  sebagian  masyarakat  Indonesia,
              khususnya buruh," ujarnya, Selasa (27/10/2020).

              Menurutnya, dengan SE Menaker yang tidak menaikkan upah minimum ini justru akan membuat
              Indonesia semakin terjerembab ke dalam jurang resesi karena tidak bisa meningkatkan daya beli
              masyarakat dan konsumsi masyarakat.

              Ia  melihat  SE  ini  sebagai  suatu  ketidakadilan  bagi  buruh  yang  selama  ini  menjadi  tulang
              punggung  perekonomian  dan  menyumbangkan  banyak  keuntungan  bagi  pengusaha.  "Kami
              menuntut cabut SE Menaker tentang Penetapan upah minimum 2021. Cabut juga UU Ciptaker,
              PP No. 78/2015 tentang Pengupahan dan tetapkan upah minimum sesuai KHL [Kebutuhan Hidup
              Layak]," katanya.

              Kepala  Dinas  Ketenagakerjaan  dan  Transmigrasi  (Disnakertrans)  DIY,  Aria  Nugrahadi,
              menuturkan SE tersebut masih dikoordinasikan dengan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten dan
              Kota serta Dewan Pengupahan Daerah.

              Karena saat ini situasi masih pandemic covid-19, pihaknya mempertimbangkan banyak hal dalam
              menentukan  upah  minimum.  Karena  SE  juga  baru  diterbitkan  pada  Senin  (26/10)  malam
              sementara pada Rabu (28/10) sudah mulai cuti bersama, maka penetapan upah minimum yang
              biasanya pada 1 November, akan mundur.

              Terkait  tuntutan  Serikat  Buruh  untuk  tetap  menaikkan  upah  minimum,  ia  mengatakan  akan
              mempertimbangkan  aspirasi  kedua  belah  pihak,  yakni  buruh  dan  pengusaha.  "Karena  tidak
              hanya buruh, kondisi pandemic ini kita juga mempertimbangkan kelangsungan usaha juga, yang
              implikasinya berdampak pada pekerja juga," ungkapnya.







                                                          1586
   1582   1583   1584   1585   1586   1587   1588   1589   1590   1591   1592